Minggu, 29 April 2012

Reruntuhan Kuno Palenque di Meksiko (Palenque Ruins)

palenque ruins



Palenque adalah negara kota Maya di Meksiko selatan yang berkembang di abad ke-7. 
Palenque dimulai dari tahun 100 SM sampai kejatuhannya sekitar 800 AD. 
Setelah kemunduran itu Palenque hanya terjebak ke dalam hutan, yang terdiri dari cedar, mahoni, dan pohon sawo, tetapi telah digali dan dipulihkan dan sekarang menjadi situs arkeologi terkenal menarik ribuan pengunjung. 
Terletak di dekat Sungai Usumacinta di negara bagian Meksiko, Chiapas, terletak sekitar 130 km (81 mil) selatan Ciudad del Carmen sekitar 150 m (164 yd) di atas permukaan laut. 
Iklim tetap pada 26 ° C kelembababanya (79 ° F) dengan curah hujan sekitar 2160 mm (85 in).
Palenque adalah sebuah situs berukuran sedang, jauh lebih kecil dibandingkan situs besar seperti Tikal atau Cop├ín, tapi mengandung beberapa arsitektur terbaik, patung, sisir atap dan relief ukiran bahwa Maya. 
Sebagian besar sejarah Palenque telah direkonstruksi dan di terjemahkan dari membaca tulisan hieroglif pada banyak monumen; sejarawan sekarang memiliki urutan panjang dari dinasti yang berkuasa Palenque pada abad ke 7 dan pengetahuan luas tentang persaingan kota-negara dengan negara lain seperti Calakmul dan Tonina. 
Penguasa yang paling terkenal dari Palenque adalah Pacal yang Agung yang makamnya ditemukan dan digali di Prasasti Kuil .



Sejarah
Banyak sejarah Klasik Awal kota masih menunggu para arkeolog. Namun, dari sejauh mana situs disurvei dan referensi ke penguasa Klasik Awal dalam catatan inscriptional dari Classic Akhir, adalah sejarah Palenque lebih lama dari ini yang kami tahu. 
Fakta bahwa ajaw awal (raja atau penguasa) dan makhluk mitologis menggunakan berbagai mesin terbang sebagai lambang dalam tema mereka memang menunjukkan sejarah awal yang kompleks. 
Misalnya, K'uk 'B'ahlam, seharusnya pendiri dinasti Palenque, disebut Ajaw Toktan dalam teks Kuil Palang foliated.


Temple of  Inscrption


The Temple of Inscriptions (Kuil Prasasti).
Kuil Prasasti mungkin merupakan struktur yang paling signifikan di situs ini dikarenakan mengandung makam Pakal yang Agung, penguasa terkuat Maya Palenque, yang menyuruh untuk melakukan pembangunan kuil ini yang akan dimulai setelah kematiannya. 
Tangga dari puncak piramida sampai ke makam itu ditemukan oleh Alberto Ruz pada tahun 1952. 
Dia memecahkan misteri lubang-lubang di batu penjuru tangga yang telah membingungkan para arkeolog selama 112 tahun, sejak Stevens dan Catherwood "menemukan" Palenque pada tahun 1840.

Makam Pacal (Pacal Tomb)
Tangga turun secara vertikal 80 meter untuk ruang pemakaman Pakal di mana sebuah lempengan batu besar dengan hiasan ukiran digunakan untuk menutup makamnya. 
Kelembaban di bawah sini sangat kental, dan seperti dinding-benar menangis karena Pakal dimakamkan. 
Izin khusus diperlukan untuk mengunjungi bagian interior Kuil Prasasti.











Source : wikipedia.org
http://www.locogringo.com/chiapas/palenque.cfm

Misteri Ukiran Tebing di Persepolis Persian

Di utara dari kota kuno Persepolis di Iran ada tebing aneh bernama Naqsh-i-Rustam. Pembangunan tebing yang menakjubkan, dan aneh itu. bicara tentang pintu besar yang masuk tepat ke dinding tebing ini dengan total 4 pintu masuk yang berbentuk salib raksasa juga dikenal sebagai Persilangan Persia.
Bangunan ini sempurna diukir di dinding. Di dalam pintu masuk Anda akan menemukan sebuah camber kecil di mana raja akan berada di sarkofagus, tapi sekarang sudah kosong. Tebing ini juga dikenal sebagai Kekaisaran Persia dan penguasa perusahaan yaitu Xerxes, Darius dan Cyrus.
Di luarnya juga memiliki patung dengan ukiran orang dan kuda, dan prasasti tertua yang pernah tercatat dengan nama Iran juga dapat ditemukan di sana. Hari ini daya tarik wisata dan cara yang baik untuk mengenal sejarah dan budaya Persia tua. Sesuatu yang dapat mengingatkan dari Kekaisaran Persia dengan melihat Gua ini yang indah di Kota Georgia yang sebenarnya adalah sebuah biara.




Copy From : Misteri Ukiran Tebing di Persepolis Persian | INFO INDONESIA

Jumat, 06 April 2012

TAMAN WISATA ALAM AIR TERJUN WERA ,Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

TAMAN WISATA ALAM AIR TERJUN WERA
air terjun wera 1. STATUS
Taman Wisata Wera berdasarkan Sk. Menteri Pertanian No. 843/Kpts/Um/11/1980 tanggal 11 Januari 1980 dengan luas ± 250 hA. Kawasan ini termasuk dalam kelompok hutan Wera (hutan lindung Wera) dan memilik potensi wisata yang besar berupa panorama alam yang indah dan Air Terjun Wera,

2. FISIK
Letak
menurut administrasi pemerintahan termasuk di dalam wilayah Desa Balumpewa, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah.
Geografis
secara geografis kawasan Taman Wisata Wera terletak antara 1°2′-1°3′ LS dan antara 119° 50′ – 119° 51′ BT,

Batas Kawasan
Batas sebelah Utara : Daerah perbukitan sepanjang wilayah Dusun Ngatapapu.
Batas sebelah Timur : Batas Hutan Lindung Wera yang berbatasan langsung dengan lokasi Asrama Yayasan Misi Masyarakat di Pedalaman (YMMP).
Batas sebelah Barat : Dusun Ngatapapu memotong hulu Sungai Wera.
Batas sebelah Selatan : Kawasan hutan perbukitan sebelah selatan sungai Wera.

Topografi :
Wilayah Sulawesi Tengah sebagian besar merupakan Daerah pegunungan dan perbukitan diselingi oleh lembah-lembah, sungai dan dataran tinggi. Kawasan Taman Wisata Wera sebagian besar merupakan daerah perbukitan dengan kondisi topografi pada umumnya berlereng sampai terjal dengan kemiringan antgara 60% s/d 95% terdapat lembah yang sempit yang merupakan aliran sungai Wera yang agak datar terdapat pada bagian bawah disekitar desa Balumpewa dengan ketinggian dari permukaan laut 150 m s/d 800 m dpl.

Geologi dan Tanah
air terjun wera sigiBerdasarkan Peta Geologi Indonesia dari Direktorat Geologi Indonesia (1965) dan peta Tanah Tinjau LPT (1966), formasi geologi Taman Wisata Wera termasuk batuan sedimen marin, aluvium induk dan terumbu koral. Jenis tanahnya : alluvial dan potselik dengan bahan endapan musolium tanah cukup dalam, tekstur lempung sampai liat, sering berlapis-lapis debu dan pasir.

Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson kawasan Taman Wisata Wera termasuk dalam tipe B, dengan nilai Q= 0,213. dengan curah hujan rata-rata setahun 1.589 mm/tahun.

Hidrologi
Kawasan Taman Wisata Wera ini dialiri oleh satu sungai utama yaityu sungai Wera, Pada bagian hulu terdapat dua buah anak sungai yang mengalir masuk dan membentuk sungai Wera. Sungai ini mengalir melalui celah yang terjal pada celah-celah perbukitan yang curam dan membentuk jeram (terjunan) setinggi ± 80 m. Pada bagian bawah yang agak datar sungai Wera mengalir ke arah Timur ke Desa Kaleke dan sekitarnya. Karena melalui aliran yang terjal dan berbatu-batu, sungai ini tidak begitu lebar (hanya sekitar 2-3 m) dengan kedalaman kurang dari 50 cm.

3. BIOLOGI
Potensi Flora
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan hasil inventarisasi flora dan fauna yang pernah dilaksanakan sebelumnya, kawasan Taman Wisata Wera ini termasuk daerah yang kritis dengan lereng yang curam serta labil dengan kondisi vegetasi penutup tanah yang relatif kecil: sebagian besar permukaan tanah ditumbuhi padang rumput dan semak-semak/hutan sekunder. Bagian yang agak nerhutan terdapat pada celah bukit dan lembah disekitar sungai Wera. Keadaan vegetasi di kawasan ini relatif jarang terutama dari kondisi hutan yang sebagian besar semak belukar dan hutan sekunder (Tua).
Hanya pada bagian lereng yang terjal pada sekitar 50 – 100 m pada kiri kanan alur sungai yang masih tertutup hutan yang utuh, termasuk pada bagian hulu yang kondisi medannya juga terjal. Hal ini menyebabkan sampai saat ini aliran sungai Wera relatif masih baik dan mengalir sepajang tahun, karena baik alirannya maupun daerah tangkapan air di daerah hulu relatif masih baik (karena kondisi alam yang sulit sehingga tidak dapat dirambah/diganggu). Walaupun demikian, pada bagian lain relatif datar (pada gunung dan puncak bukit) kondisi hutannya sudah terganggu. Hal ini disebabkan adanya kegiatan masyarakat yang telah lama bermukim di sekitar kawasan yang masih mempraktekkan perladangan berpindah yaitu masyarakat Dusun Kaluku Tinggu dan dari desa Balumpewa yang masih membuka ladang pada daerah perbukitan di sekitarkawasan Taman Wisata ini.
Kondisi pada bagian timur sungai Wera sebagian besar ditumbuhi vegetasi rumput ( ± 80 % ) dan lainnya adalah semak belukar. Pada bagian barat kawasan lebih banyak ditemui hutan sekunder ( 90 % ) dan pada bagian kiri kanan sungai Wera kondisi hutannya masih baik.
Jenis pohon yang mendominasi kawasan Taman Wisata Wera masing-masing adalah : Avicenia marina, Drypetes sp., Semecarpus sp., Pterospermum ferrugineum, Litsea sp. dan Dracontomelon mangiferrumn. Selain itu pada bagian Utara kawasan yang sudah terbuka, telah ditanami jenis pohon pinus (Pinus merkussi) dalam upaya reboisasi lahan kritis di daerah perbukitan yang mulai gundul.

Potensi Fauna
weraJenis satwa yang dapat dijumpai di kawasan Taman Wisata Wera relatif sedikit, hanya beberapa jenis mamalia, aves dan serangga yaitu antara lain : Monyet hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Kus-kus (Phalanger ursinus), Tarsius (Tarsius spectrum), Burung kasuari, Gagak (Aceros cassidix), Ayam hutan (Gallus-gallus) dan beberapa jenis kupu-kupu.
Keberadaan satwa yang relatif kurang ini disebabkan oleh kondisi habitat yang sudah terganggu dan gangguan masyarakat sekitar yang masih berburu dan melintasi kawasan ini.

4. WISATA
Potensi Obyek Wisata
Obyek wisata di Taman Wisata Wera yang menarik diantaranya ; menikmati panorama air terjun Wera yang dapat dilihat dari dua sisi yaitu wera atas (puncak) dan dari bawah (tempat jatuhnya air). Air terjun Wera dengan ketinggian terjunan ± 80 m dengan kemiringan terjun antara 70° – 80° manakala kita berada disekitar tempat jatuhnya air menyuguhkan pemandangan yang indah. Selain itu atraksi Hiking (mendaki gunung) dari arah Utara batas kawasan ke puncak bukit sebelah Barat. Pada umumnyha obyek wisata sesuai potensi yang dimiliki di kawasan Taman Wisata Wera ini masih baik bahkan dapat dikatakan masih alamiah.

5. PENGELOLAAN
Aksesibilitas
Kawasan Taman Wisata Wera terletak ± 20 km sebelah selatan Kota Palu, Kawasan ini relatif dekat dan mudah dijangkau karena telah ada jalan raya beraspal yang menghubungkan Kota Palu dengan desa-desa disekitarnya. Untuk mencapai kawasan ini pengunjung dapat naik kendaraan umum (minibus) dari Terminal Petobo Palu, atau kendaraan pribadi dengan rute:  Palu – Rarampadende – Balumpewa) perjalanan ke lokasi ini hanya membutuhkan waktu ± 30 menit.

Kuburan Bayi dalam Pohon - Baby Grave - Kambira

baby grave kambira

Kuburan-kuburan di Toraja memang unik-unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Sebut saja di Buntu Pune dan Ke’te’ Kesu’ dimana erong (peti mati) digantung pada dinding-dinding tebing, di Londa erong-erong ini ada yang digantung pada dinding tebing tapi ada juga yang ditaruh dalam goa, sementara di Lemo erong-erong dimasukkan ke dalam dinding tebing yang sudah dipahat. Nah masih ada kuburan lain yang tidak kalah uniknya, namanya adalah Baby Grave-Kambira. Kambira terletak tidak terlalu jauh dari Lemo. Dari jalan poros Rantepao-Makale berjalanlah ke arah Sangalla/Makula nanti Anda akan menemukan papan petunjuk arah ke Baby Grave-Kambira. Jalan masuknya cukup bagus kok. Nanti sesampainya di Kambira akan disambut oleh rumah adat tongkonan yang cukup besar, loket pembayaran tiket, dan satu atau dua toko souvenir. Namun saya tidak kunjung menemukan orang yang berjaga di loket ini. Ya sudah langsung saja saya masuk ke objek wisata Kambira ini.

Kambira merupakan sebuah desa yang terletak di tenggara Rantepao. Di sini terdapat tempat kuburan yang bisa dibilang sangat unik. Ada sebuah pohon besar di tengah-tengah area kebun yang di sekelilingnya banyak terdapat pohon bambu. Pohon yang besar ini disebut Pohon Taraa’ dan digunakan sebagai tempat mengubur mayat bayi. Hanya bayi yang meninggal sebelum gigi susunya tumbuh saja yang boleh dikubur di sini. Karena bayi dengan kondisi seperti itulah yang dianggap masih suci. Bagaimana caranya? Pohon Taraa’ yang berukuran cukup besar itu dilubangi dengan diameter tertentu sebagai tempat untuk menguburkan bayi. Kemudian mayat bayi diletakkan begitu saja dalam lubang pohon tanpa dibungkus. Lubang ini kemudian ditutup dengan menggunakan ijuk Pohon Enau. Pemakaman bayi dalam pohon ini hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur).

baby grave kambira


baby grave kambira

baby grave kambira

Sama seperti kuburan-kuburan lain di Toraja, penempatan kuburan bayi ini juga berdasarkan strata sosial keluarga. Semakin tinggi tempat penguburan maka semakin tinggi derajat sosial keluarga dari si bayi ini. Uniknya lagi, penempatan arah lubang kuburan juga disesuaikan dengan arah tempat tinggal keluarga. Tidak ada bau busuk mayat sama sekali di Kambira meskipun ada banyak lubang pohon yang berisi mayat. Pohon yang cukup unik ini tentu bisa menyedot ketertarikan para wisatawan yang datang ke Tana Toraja. Setelah melihat kuburan unik ini mungkin Anda bisa berbelanja souvenir seperti ukiran topeng, tau-tau, dan lain-lain yang ada di toko souvenir di sana. Selain itu Anda bisa juga melihat rumah adat tongkonan yang terletak tidak di seberang objek wisata Kambira ini.

Danau Tondano

Nama Danau Tondano tentu masih diingat oleh siapa pun yang pernah belajar di bangku sekolah dasar . Sebagian masih ingat dimana Danau Tondano berada, sebagian lagi mungkin sudah lupa, namun setidaknya masih tahu bahwa lokasi Danau Tondano berada di Sulawesi, meski tidak yakin benar untuk mengatakan bahwa Danau Tondano berada di Sulawesi Utara, tepatnya di Kabupaten Minahasa.

Danau Tondano
Danau Tondano dengan airnya yang berwarna kebiruan terlihat dikejauhan, dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan, hamparan pepohonan dan persawahan yang luas menghijau. Danau Tondano berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Danau Tondano
Salah satu sudut Danau Tondano dengan petak-petak penangkapan ikan yang sangat padat, diambil ketika dalam perjalanan menuju Bukit Kasih dengan langit yang tersaput mendung. Danau Tondano terkenal merupakan danau penghasil ikan nike goreng yang sangat gurih, serta ikan mujair, pior/kabos, dan payangka wiko (udang kecil). Pengunjung dapat mengelilingi Danau Tondano dengan menggunakan mobil, dan bisa berhenti di beberapa tempat untuk menikmati keindahannya.
Danau Tondano
Sebuah rumah panggung mungil cantik di atas danau Tondano, yang pemiliknya ternyata adalah teman Lita, sehingga kami pun bisa masuk ke dalam rumah itu untuk selama beberapa saat menikmati pemandangan Danau Tondano dari dalam ruangan yang ditata apik.
Danau Tondano
Deretan pancangan bambu yang menancap di tepian Danau Tondano, di sebelah kanan rumah mungil, sebagai tempat penangkapan ikan. Danau Tondano adalah danu yang terbesar di Sulawesi Utara dengan luas keseluruhan 4.278 ha, sehingga cadangan ikannya pun cukup berlimpah meskipun diambil setiap hari tanpa henti.
Danau Tondano
Pemandangan di sebelah kiri rumah mungil di tepi Danau Tondano itu, dengan jembatan yang menghubungkannya dari tepi jalan. Eceng gondok terlihat tumbuh berkelompok di tepian Danau Tondano. Meskipun tidak terlihat tumbuhan Eceng gondok di tengah Danau Tondano, namun di bawah permukaan airnya terdapat banyak akar-akar tumbuhan air.
Danau Tondano
Bagian atas dalam foto adalah ornamen pada gapura yang berada di mulut jembatan yang menuju ke rumah panggung. Sebuah sampan kecil berwarna oranye tampak tertambat di bawah rumah di tepi Danau Tondano.
Danau Tondano
Danau Tondano dilihat dari tepi rumah panggung. Mungkin karena luasnya, angin di tepian Danau Tondano bisa cukup kencang, dan riak air Danau Tondano yang meskipun rendah namun cukup untuk membuat perahu bergoyang. Dari beberapa foto, karena saya tidak melihat ada satu pun perahu melintas saat di sana, perahu motor di Danau Tondano banyak yang bercadik untuk membantu menjaga keseimbangan perahu.
Danau Tondano
Danau Tondano dari dalam rumah panggung, yang memperlihatkan atmosfer di dalam rumah yang sangat nyaman untuk bisa menikmati keindahan danau sambil bercengkerama, atau pun sambil menikmati makanan dan minuman khas Tondano.
Danau Tondano
Sebuah rumah panggung besar indah yang terletak di ketinggian, di pinggir jalan, di seberang rumah panggung di atas Danau Tondano itu, dengan pemandangan sangat luas ke arah Danau Tondano. Mungkin akan sangat menyenangkan jika bisa melihat Danau Tondano dari rumah ini.
Setidaknya ada dua tempat wisata di sekitar Danau Tondano yang biasa dikunjungi, yaitu Sumaru Endo di Remboken (GPS: 1.233920, 124.870400), dan Resort Wisata Bukit Pinus (arah ke Toliang Oki). Selain itu tentunya banyak titik-titik indah lain di sekeliling danau yang bisa dijelajahi sendiri dengan mobil. Sayang sekali saya tidak sempat pergi ke tempat wisata yang disebut terakhir itu. Mudah-mudahan pada kunjungan berikutnya bisa pergi ke sana, sekalian naik perahu mengelilingi Danau Tondano dan melihat pulau Likri, sebuah pulau kecil di Danau Tondano yang terletak di depan Desa Tandengan, Kecamatan Eris.

Danau Tondano

Berada di Kabupaten Minahasa, sekitar 36 km dari Kota Manado
Sulawesi Utara.

Kamis, 05 April 2012

Lemo Tana Toraja


Desa Lemo memiliki keunikan tersendiri. Tongkonan dan kubur batu yang berada di tebing curam menjadi daya tarik desa ini.
Kubur tebing batu
Tebing menjadi kubur
Kubur tebing batu
Lubang kubur batu dan Tau tau
Tongkonan
Tongkonan adalah rumah khas masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan dan sebagai rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan.
Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara. Arah tongkonan yang menghadap ke utara serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.
Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Kata tana artinya negeri, sedangkan kata toraja berasal dua kata yaitu tau (orang) dan maraya (orang besar atau bangsawan). Kemudian penggabungan kata-kata tesebut bermakna tempat bermukimnya suku Toraja atau berikutnya dikenal sebagai Tana Toraja.
Tongkonan berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja.
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual adat yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.
Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati.
Rumah tradisional Tongkonan di Lemo
Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari.
 Atap tongkonan berselimut lumut dan tanaman hijau lainnya
Ada beberapa jenis rumah adat togkonan, antara lain  tongkonan layuk (pesio’aluk),  yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan pekaindoran (pekamberan atau kaparengngesan), yaitu berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat. Ada juga batu a’riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan membina persatuan keluarga serta membina warisan.
Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman.
Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.
Lumbung padi, tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Ukiran khas Toraja bermakna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Ukiran tersebut digunakan sebagai dekorasi eksterior maupun interior rumah mereka.
Motif ukiran di dinding kayu tongkonan
Saat melihat rumah adat ini, ada ciri lain yang menonjol yaitu kepala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.
Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut.
Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci.
Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. Sumber materi tulisan: http:www.indonesia.travel
Kepala kerbau dan ayam berteman sebagai simbol