Kamis, 01 Maret 2012

Aneka Terapi dari Jus Buah-Buahan untuk penyembuhan asam urat dan rematik

Terapi jus avokad untuk penyembuhan asam urat dan rematik
Buah Avokad ( Persea americana Mill ) termasuk dalam keluarga Lauraceae, buah avokad atau yang biasa disebut avocado, alpokat, avokat, apoket, adpocat, atau apukat ini mempunyai daging buah yang bertekstur halus, tebal, empuk. Buah avokad mengandung lemak hingga 30 kali lebih banyak dari pada buah yang lainnya dan mampu menghasilkan energi yang cukup tinggi, pada buah avokad sendiri mengandung lemak tidak jenuh yang berguna membantu menurunkan serum kolesterol jenuh, sedangkan kandungan karbohidrat, gula dan seratnya termasuk rendah sehingga baik bagi yang mempunyai masalah dengan gangguan gula darah. Buah avokad juga kaya akan kandungan mineral dan kalsium, vitamin yang terkandung dalam buah avokad adalah vitamin E dan B.

Pembuatan jus
Siapkan gading buah avokad secukupnya yang telah dicuci hingga bersih, potong hingga menjadi bagian kecil lalu blender sambil menambahkan air secukupnya, atau bias juga diganti dengan susu kedelai jika anda suka.

Petunjuk
Jus avokad diminum satu gelas tiap hari pada siang atau malam hari setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik. Daging buah avokad juga bisa digunakan sebagai perawatan kulit wajah agar lembab dan segar.


Terapi jus belimbing manis untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah belimbing ( Averhoa carambola Linn ) termasuk dalam keluarga Oxalidaceae, buah belimbing mempunyai serat yang halus, rasa yang manis, segar dan dagingnya berair. Kandungan vitamin C pada buah belimbing banyak digunakan sebagai antioksidan, maningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit serta menurunkan darah tinggi, buah blimbing juga mengandung pektin yang berfungsi menurunkan kolesterol dan asam empedu dalam tubuh.

Pembuatan jus
Siapkan buah blimbing yang segar dan masak kemudian cuci hingga bersih dan diambil bijinya, potong kecil-kecil lalu diblender sambil menambahkan air sedikit demi sedikit.

Petunjuk
Jus blimbing diminum satu gelas tiap hari pada siang atau malam hari setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.


Terapi jus jambu biji untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Jambu biji ( Averhoa guajava Linn ) yang termasuk dalam keluarga Myrtaceae mempunya kandungan vitamin C yang tinggi dari pada buah lainnya, jambu biji mempunyai beberapa jenis, seperti jambu Bangkok, jambu apel, jambu merah, jambu sukun, dan jambu sari, karena kandungan vitamin C yang tinggi buah ini dapat digunakan sebagai antioksidan, kandungan serat yang cukup tinggi sangat baik untuk pencernaan, serta kandungan pektinnya yang juga tinggi bermanfaat untuk mengikat kolesterol dan asam empedu dalam usus, sekaligus membantu proses pengeluarannya.

Pembuatan jus
Siapkan jambu biji yang masih segar dan masak lalu buang bijinya dan cuci hingga bersih, kemudian blender sambil menambahkan air hingga hancur dan halus.

Petunjuk
Jus buah jambu biji diminum satu gelas 2 jam setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.


Terapi jus jeruk keprok untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah jeruk keprok ( Citrus nobilis Lour ) yang mempunyai rongga diantara kulit dan daging buahnya ini merupakah salah satu sumber vitamin C dan flavonoid yang sangat baik untuk sistim pertahanan tubuh dan mendukung jaringan konektif, jeruk keprok juga bermanfaat untuk mencegah proses penuaan yang cepat, kadungan air dalam jeruk keprok juga berguna untuk menghilangkan lemak yang terdapat pada organ tubuh, kandungan pektin dalam buah ini juga bermanfaat untuk membantu menurunkan kolesterol. Tidak hanya daging buah pada buah jeruk keprok ini yang bermanfaat karena bijinya juga berkhasiat mengurangi pembengkakan dan membantu menghilangkan rasa nyeri.

Pembuatan jus
Siapkan buah jeruk keprok yang masih segar dan air matang secukupnya, jeruk dikupas dan diambil bijinya lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air sedikit demi sedikit.

Petunjuk
Jus buah jeruk keprok diminum 2 kali sehari 2 gelas setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.

Terapi jus jeruk lemon untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Jeruk lemon ( Citrus medica Var ) atau biasa juga disebut jeruk sitrun mempunyai bentuk bulat lonjong berwarna kekuningan, kebanyakan orang mengkonsumsi jeruk lemon sebagai jus atau digunakan sebagai aroma, kandungan asam lebih banyak pada jeruk lemon yang masih hijau dari pada yang telah masak dan berwarna kuning, kandungan vitamin C dan kalsiumnya lebih tinggi dari pada jeruk sitrun yang berwarna kuning yang berfungsi sebagai antioksidan, kandungan limomene juga bisa digunakan untuk menghilangkan batu empedu dan sebagai agen anti kanker, bagian yang paling banyak mengandung anti kanker terdapat pada bagian spon yang berwarna putih dari daging buah jeruk lemon.

Pembuatan jus
Siapkan buah jeruk lemon yang masih segar dan air matang secukupnya, jeruk dikupas dan diambil bijinya lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air sedikit demi sedikit.

Petunjuk
Jus buah jeruk lemon diminum 2 kali sehari 2 gelas setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.



Terapi jus jeruk nipis untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Jeruk nipis ( Citrus aurantium ) mempunyai bentuk bulat dan berwarna hijau ketika masih muda dan berwarna kuning setelah masak, kebanyakan orang mengkonsumsi jeruk nipis sebagai campuran minuman, kandungan vitamin C dan kalsiumnya termasuk cukup tinggi, jeruk nipis bersifat sebagai peluruh lemak, diuretic, antipiretik, serta mampu membantu menghilangkan pegal linu.

Pembuatan jus
Siapkan buah jeruk nipis yang masih segar dan air matang secukupnya, jeruk dikupas dan diambil bijinya lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air sedikit demi sedikit.

Petunjuk
Jus buah jeruk lemon diminum 2 kali sehari 2 gelas setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.


Terapi jus mangga untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah mangga atau ( Mangifera indica Linn ) mempunyai banyak varietas, seperti mangga gedong, gadung, madu, golek, harum manis dan mangga gurih, untuk pemilihan mangga yang baik untuk dibuat jus adalah dengan menghindari mangga yang terlalu masak, layu dan tercium bau fermentasi. Buah mangga mengandung asam galat yang baik bagi pencernaan dan membantu melindungi tubuh dari dari infeksi, buah mangga juga berguna untuk membersihkan aliran darah dan mengurangi panas badan yang berlebih, mengurangi rasa sakit serta membantu menghilangkan bau badan ataupun sebagai aktioksidan.

Pembuatan jus
Siapkan buah mangga yang masih segar, tidak terlalu lunak dan air matang secukupnya, mangga dikupas dan diambil bijinya lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air sedikit demi sedikit.

Petunjuk
Jus buah mangga diminum 1 kali sehari, 1 gelas 2-3jam setelah makan, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.


Terapi jus melon untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah melon yang termasuk keluarga Cucurbitaceae ini mempunyai kandungan zat antikoagulan atau zat anti pengendapan yang disebut adenosin, fungsi dari zat ini dapat menghentikan penggumpalan darah, kandungan karotenoid pada buah melon cukup tinggi, melon juga dapat mencegah kanker paru.

Pembuatan jus
Siapkan buah melon yang masih segar dan air matang secukupnya, melon dikupas dan dipotong kecil-kecil lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya.

Petunjuk
Jus buah melon diminum 2 kali sehari, 2 gelas pagi dan malam hari, sebagai terapi jus untuk penyembuhan asam urat dan rematik.

Terapi jus nanas untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah nanas ( Ananas comusus ) dapat dijadikan minuman yang mempunyai kandungan kalori yang cukup rendah, manfaat jus nanas adalah membantu mencerna protein dan konstipasi berkat kandungan bromelin yang merupakan kompleks pemecah protein, enzim ini juga berkhasiat untuk membantu menyembuhkan sembelit, infeksi pada saluran pernafasan, dan arthritis, kandungan lain pada buah nanas yaitu anzim peroxidase yang berfungsi mencegah tumor, buah nanas juga kaya akan vitamin C dan kalium.

Pembuatan jus
Siapkan buah nanas yang masih segar dan air matang secukupnya, nanas dikupas dan dipotong kecil-kecil lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya.

Petunjuk
Jus buah nanas diminum satu gelas sekali sehari.


Terapi jus pepaya untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah pepaya ( Carica papaya Linn ) mempunyai manfaat untuk terapi, antara lain memperlancar pencernaan, mengobati lambung serta membantu mengurangi panas tubuh yang berlebih. Kandungan mineral yang ada pada buah pepaya adalah kalium, magnesium buah ini juga kaya akan kandungan antioksidan seperti karoten, vitamin C, flavonoid, enzim renin, alkalin pepaya, karpein serta enzim papain. Karpein berfungsi mengurangi gangguan jantung dan berfungsi sebagai peluruh kencing. Sedangkan enzim papain yang terkandung pada buah pepaya berguna untuk pemecah serat makanan sisa sehingga mudah dikeluarkan. Buah pepaya juga dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit, seperti konstipasi, diare, demam dan alergi. Selain pada bagian buah daun pepaya tua juga kaya akan kalsium, yang bisa digunakan untuk pengobatan penyakit pada tulang.

Pembuatan jus
Siapkan buah pepaya yang sudah masak dan air matang secukupnya, cuci buah pepaya lalu dikupas dan dipotong kecil-kecil lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya.

Petunjuk
Jus buah pepaya diminum satu gelas, sekali sehari.


Terapi jus pisang untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Pisang ( Musa paradisiaca ) mempunyai kandungan kalium yang sangat tinggi, kalium sendiri mempunyai fungsi untuk menyeimbangkan air dalam tubuh, menurunkan tekanan darah, kesehatan jantung, membantu membawa oksigen ke otak, sedangkan pada buah pisang yang belum masak mempunyai kandungan hemiselulosa yang cukup tinggi yang berfungsi membantu pembuangan lemak dalam darah.

Pembuatan jus
Siapkan buah pisang yang sudah masak dan air matang secukupnya, dipotong kecil-kecil lalu diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya.

Petunjuk
Jus buah pisang diminum satu gelas, sekali sehari.


Terapi jus sirsak untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah sirsak ( Anona muricata Linn ) mempunyai kandungan vitamin C yang tinggi yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, kandungan serat pada buah sirsak berfungsi untuk melancarkan pencernaan, sarinya mampu meningkatkan nafsu makan, selain itu buah ini juga bisa digunakan untuk mengatasi gangguan pegal dan nyeri pada pinggang, dan batu empedu.

Pembuatan jus
Siapkan buah sirsak yang masih segar secukupnya, dikupas lalu dipotong kecil-kecil kemudian diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya.

Petunjuk
Jus buah sirsak diminum satu gelas, sekali sehari 3 jam setelah makan siang.


Terapi jus tomat untuk penyembuhan asam urat dan rematik


Buah tomat ( Solanum lycopersicum Linn ) mengandung banyak vitamin dan mineral, di antaranya adalah vitamin B, C, dan K. kandungan zat besi, fosfor, karoten, likopen, potassium, kalsium, dan yodium. Sari dari buah tomat mempunyai kadar kalori yang rendah dan kandungan vitamin C yang tinggi.

Pembuatan jus
Siapkan buah tomat yang masih segar secukupnya, dikupas lalu dipotong kecil-kecil kemudian diblender hingga halus sambil menambahkan air secukupnya bila anda suka.

Petunjuk
Jus buah tomat diminum satu gelas, sekali sehari 3 jam setelah makan siang.

MANFAAT BUAH-BUAHAN UNTUK KESEHATAN DAN PENYEMBUHAN PENYAKIT

APEL:
Kombinasi kandungan garam mineral dan pektin dalam apel, serta kandungan asam oksalik pada bayam membentuk substansi unik yang memenuhi dinding-dinding usus dan melalui gerakan kimia ang kuat tapi aman "melepaskan" kotoran yang ada di usus besar yang telah mengendap berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Kandungan zat pektin dalam apel juga mampu menurunkan kadar kolesterol dan triglycerides yang mengganggu fungsi jantung.

1. Menurunkan kadar kolesterol

Apel dikenal mengandung fitokimia, zat antioksidan yang efektif melawan kolesterol jahat (LDL). Life Science tahun 1999 menulis, selain menurunkan kolesterol jahat, apel juga meningkatkan kolesterol baik (HDL). Kandungan pektin dan asam D-glucaric dalam apel berjasa membantu menurunkan kadar kolestero) jahat dalam tubuh.

2. Mencegah kanker dan menyehatkan paru-paru

National Cancer Institute di AS melaporkan, zat flavonoid dalam apel terbukti dapat menurunkan risiko kanker paru-paru sampai 50 persen. Penelitian dari Cornell University di AS juga menemukan bahwa zat fitokimia dalam kulit apel menghambat pertumbuhan kanker usus sebesar 43 persen.

3. Mencegah penyakit jantung dan stroke

British Medical Journal (1996) mencatat, apel terbukti mencegah serangan stroke. Publikasi penelitian di Finlandia (1996) menunjukkan, orang berpola makan kaya flavonoid mengalami insiden penyakit jantung lebih rendah.

4. Menurunkan berat badan

Sebagai sumber serat yang baik, apel baik untuk pencernaan dan membantu menurunkan berat badan. Apel merupakan camilan yang sangat baik untuk orang yang sedang menurunkan berat badan karena kadar seratnya tinggi, sehingga mencegah rasa lapar datang lebih cepat.

5. Menjaga kesehatan gigi

Apel juga mengandung tanin, zat yang bermanfaat mencegah kerusakan gigi periodontal. Penyakit gusi ini disebabkan saling menempelnya bakteri pembentuk plak. Itu menurut Journal of American Dental Association (1998).

6. Membuat perempuan tetap cantik

Kandungan boron dalam apel terbukti membantu wanita mempertahankan kadar hormon estrogen saat menopause. Mempertahankan estrogen berarti mengurangi gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di kala menopause, misalnya semburan panas, nyeri, depresi, penyakit jantung, osteoporosis.

7. Melindungi tubuh dari virus flu

Konowalchuck pada tahun 1978 mengeluarkan publikasi mengenai efek antivirus dalam minuman sari buah apel. Menurutnya, sari apel sangat baik untuk melawan serangan infeksi virus karena stamina dan kekebalan tubuh meningkat berkat konsumsi sari apel itu.


ALPUKAT
Kandungan kalori, lemak dan minyak yang tinggi di dalamnya tidak saja menjadi sumber enerji yang melimpah yang dibutuhkan pada saat puasa, tapi juga mengurangi kadar kolesterol dan menjaga kelenturan otot-otot sendi.
Berbagai manfaat bisa didapat dari alpukat,baik buah maupun daunya. Para peneliti dari Shizuoka University, Jepang. Misalnya, menemukan manfaat buah alpukat dalam mengurangi kerusakan hati, termasuk juga kerusakan akibat virus hepatitis. Berikut beberapa manfaatnya.

Mengatasi batu ginjal: Minum air seduhan tujuh helai daun alpukat dengan ½ gelas air panas setiap pagi dan sore.

Untuk sakit punggung: Rebus 5 helai daun alpukat dan 500 cc air hangat tinggal 250 cc. Embunkan semalaman dan minum keesokan harinya. Lakukan seminggu berturut-turut.

Untuk Sariawan: Aduk sebuah alpukat matang dengan dua sendok madu dan makan tiga kali sehari.

Menghaluskan kulit: Haluskan buah alpukat dan setelah itu balurkan merata selama 30 menit pada wajah dan tangan yang sudah dibersihkan dengan air hangat.


PISANG
Daging buah pisang yang lembut melapisi dinding-dinding lambung dan usus sehingga dapat menjadi lapisan anti radang. Pisang sangat membantu bagi mereka yang mengalami masalah peradangan lambung atau usus. Karena daging buah pisang sangat lembut, dianjurkan untuk tidak dijadikan jus.

BELEWAH
Kandungan beta-karoten, pro-vitamin A, magnesium, mangan, seng dan krom pada belewah dapat mengurangi peradangan dan memulihkan luka peradangan jaringan usus. Gula alami dan enzim yang dikandung belewah mempunyai fungsi absorpsi atau penyerapan pada usus akibat makan tergesa-gesa shingga makanan tak terkunyah dengan baik, terlalu banyak makan makanan yang berbumbu, endapan obat-obatan, atau rasa mual karena rasa kuatir yang berlebihan.

JERUK
Sari buah jeruk yang banyak mengandung vitamin C sangat baik karena selain menstimulasi sistem kekebalan tubuh, juga menghilangkan sumbatan lendir di tenggorokan, rongga hidung, paru-paru dan perut. Berguna pula untuk membersihkan liver dan menghilangkan rasa sakit di tubuh akibat influenza. Campuran sari jeruk nipis dan madu sangat berkhasiat menyembuhkan radang tenggorokan dan amandel. Bagi mereka yang memiliki gangguan lambung, tentu pilih buah jeruk yang tidak terlalu asam.

KURMA
Kandungan gula kurma yang tinggi membuat kurma menjadi buah yang menghasilkan energi tinggi. Bahkan ada legenda bahwa Nabi Muhammad SAW berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma, tentunya yang berkualitas tinggi. Kandungan gula kurma sangat membantu menyembuhkan luka. Hati-hati bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes, jangan terlalu banyak mengkonsumsi buah ini.

PEPAYA DAN MANGGA
Jus campuran pepaya dan mangga memiliki kandungan karbohidrat dan enzim yang tinggi. Jus segar ini bermanfaat dalam menanggulangi pembengkakan dan peradangan, gangguan pencernaan dan demam. Jus mangga sendiri dapat mengurangi dehidrasi dan memperlancar sirkulasi darah. Sedangkan pepaya melancarkan buang air besar dan mengatasi sembelit.

PEAR
Mengkonsumsi buah Pear membantu mengatasi rasa tidak enak di perut akibat kadar asam yang berlebihan yang berasal dari makanan berkalori tinggi, berminyak dan pedas. Jus pear juga dapat dicampur dengan apel dan sedikit jeruk nipis.
Buah pir kaya akan gizi. Selain berkhasiat sebagai anti kanker, buah yang kulitnya berwarna kuning atau hijau ini juga bersifat anti bakteri. Rasanya yang segar dan banyak mengandung air membuatnya dapat dijadikan santapan ringan setiap hari.

Mengunyah buah yang kandungan airnya tinggi tentu sangat menyegarkan. Terlebih jika dikonsumsi saat matahari sedang terik. Salah satu buah yang tinggi kandungan airnya adalah buah pir. Buah segar dengan berat sekitar 160 gram ini juga mengandung serat yang tinggi.

Dalam buah pir terkandung asam chlorogenic yang merupakan turunan dari asam hydroxy cinnamic. Asam tersebut cenderung banyak terkumpul pada bagian kulit buah pir. Karena itu, untuk mendapatkan manfaat pir yang terbaik, sebaiknya buah pir dikonsumsi bersama dengan kulitnya. Namun, harus dicuci terlebih dulu sampai benar-benar bersih, atau memasaknya sebentar agar seratnya tidak banyak yang hilang. Bila diberikan pada bayi, buah pir sebaiknya dikupas terlebih dahulu kemudian diblender tanpa tambahan gula.

Asam hydroxy cinnamic berperan sebagai antioksidan yang dapat mencegah pembentukan sel kanker. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa asam tersebut mampu mencegah pertumbuhan bakteri Shigella sonnei, yang menjadi penyebab penyakit pada saluran pencernaan.

Asam hydroxy cinnamic juga dapat mencegah terjadinya kanker kolon. Hal itu disebabkan karena asam hydroxy cinnamic mengikat nitrat di dalam perut, lalu menghambat konversi karsinogenik yang sangat potensial, yaitu nitrosamin.

Buah pir juga menjadi salah satu buah yang dapat menahan reaksi alergi terhadap suatu makanan. Oleh sebab itu, pir sangat bermanfaat bagi mereka yang food intolerance atau alergi terhadap makanan.


NANAS
Enzim bromealin dalam nanas melarutkan lendir yang sangat kental dalam sistem pencernaan sehingga juga dapat menghancurkan bisul bila ada. Masakan yang dibuat dengan 250 gram nanas yang diiris-iris, 60 gram cincangan daging ayam dan lada secukupnya yang kemudian digoreng dapat mengatasi penyakit darah rendah dengan gejala lemasnya kaki dan tangan.

DELIMA:
Di Irak dan Iran, jus delima yang dibuat kumur terlebih dahulu sebelum diminum membantu membersihkan mulut dan gigi, serta mencegah infeksi sehingga membantu menghilangkan bau mulut yang tidak sedap. Memakan dengan perlahan-lahan buah delima dan mengeluarkan bijinya dapat menjernihkan suara yang serak dan menghindari kekeringan tenggorokan. Manfaat lainnya, kandungan zat tanin dalam buah delima dapat membius cacing gelang, cacing kremi dan cacing pita dalam usus sehingga mereka dapat dikeluarkan melalui air besar. Cara ini sudah biasa digunakan oleh penduduk Mesir dan Vietnam.

TOMAT:
Jus tomat segar sangat membantu pembentukan glycogen dalam liver. Menurut penelitian ditemukan bahwa jus tomat menyeimbangkan fungsi liver dengan cepat dan dengan demikian berarti menjaga stamina tubuh dan menyehatkan badan. Garam mineral yang kaya dalam tomat meningkatkan nafsu makan dan merangsang aliran air liur sehingga memungkinkan makanan dicerna dengan baik. Konsumsi tomat yang teratur membantu mengobati penyakit anoreksia (kehilangan nafsu makan).

SEMANGKA:
Terlalu banyak mengkonsumsi daging-dagingan, manis-manisan, goreng-gorengan, kopi dan minuman ringan sering membuat darah terlalu banyak kandungan asamnya dan mengakibatkan bintik-bintik merah di kulit. Jus semangka akan merontokkan asam tersebut dan memperbaiki kandungan darah. Bagi penderita diabetes, mengkonsumsi secara teratur jus semangka dapat menjaga meningkatnya gula darah. Kelebihan kandungan asam urik dalam tubuh yang menyebabkan arthritis, encok dan keracunan urea dapat dihilangkan dengan meminum jus semangka secara teratur dua kali sehari.

KELENGKENG:
Buah ini banyak mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, asam tartaric, vitamin A dan B. sebagai salah satu sumber energi, buah yang sangat manis ini berguna untuk meningkatkan stamina sehabis sakit. Kelengkeng sangat baik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi wanita hamil yang lemah atau setelah melahirkan. Memakan buah ini secukupnya secara teratur dapat menambah nafsu makan, mencegah anemia dan pemutihan rambut dini. Selain itu akan mempercepat kesembuhan luka luar. Awas, konsumsi secukupnya saja, kalau kelebihan, akan membuat tubuh menjadi panas akibat kelebihan energi.

BELIMBING:
Meminum atau memakan buah belimbing dan menelannya secara perlahan dapat mencegah dan mengatasi infeksi mulut dan tenggorokan. Campuran belimbing dan madu juga dapat membantu mencegah dan mengatasi kencing batu.

LECI:
Selain kandungan protein, lemak, vitamin C, fosfor, dan zat besi, buah leci mengandung sukrosa dan glukosa yang melimpah. Mengkonsumsi buah leci pada malam hari dapat menambah cadangan energi untuk keesokan harinya.

KELAPA:
Air kelapa mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa, sedangkan dagingnya selain tiga hal di atas juga mengandung protein, lemak, vitamin dan tentunya minyak kelapa. Meminum air kelapa muda dan memakan dagingnya dapat mengurangi kegerahan, mulut kering, demam dengan kehausan serta diabetes. Selain itu, minum air kelapa muda dipercaya membuang racun dalam darah. Perhatian, terlalu banyak minum air kelapa muda menyebabkan sedikit rasa lemas sementara. Bagi yang memiliki gangguan tulang jangan mengkonsumsi banyak air kelapa. Buah-buahan merupakan sumber makanan alami yang paling siap untuk langsung dikonsumsi manusia, sayang kadang kala dilupakan. Dengan penjelasan di atas, semoga buah-buahan tidak lagi dilupakan sebagai makanan yang wajib dikonsumsi.

lABU, KAYA SERAT, VITAMIN DAN MINERAL
Labu mempunyai banyak varietas, dari lebih 40 jenis labu, baru sedikit yang dimanfaatkan manusia sebagai bahan pangan. Disisi lain, buah dari tanaman merambat ini sangat kaya akan kandungan serat, vitamin, mineral dan air. Banyak pakar gizi dan kesehatan berkomentar kalau labu bermanfaat untuk kesehatan. Seperti yang diungkapkan Prof.Hembing Wijayakusuma, seorang pakar kesehatan alternatif, menurutnya labu dapat mengobati tekanan darah tinggi, menurunkan panas, diabetes dan memperlancar proses pencernaan. Mari kita kenali jenis dan kegunaannya.

Labu Kuning/Labu Parang/Pumpkin Dari sekian banyak jenis labu, Labu kuning (Cucurbita moschata) paling sering digunakan dalam masakan. Beragam jenis hidangan bisa dibuat dari buah ini, mulai dari kolak, sup, cake hingga kue-kue basah seperti talam dan kue lumpur. Teksturnya yang lembut dengan rasa sedikit manis cocok dipadu padan dengan beragam bahan. Dari gizinya pun tidak mengecewakan, setiap 100 gr labu mengandung 34 kal, 1.1 protein, 0.3 lemak, 0.8 mineral dan 45 mg kalsium.

Labu Air Labu air (lagenaria siceraria) adalah varietas labu bertekstur keras, warna kulit kehijauan dan daging buah berwarna putih. Sebagian orang memanfaatkan sebagai bahan baku manisan kering, campuran saus tomat dan masakan. Gulai labu atau sayur labu adalah dua hidangan popular dari labu air. Labu air kaya akan serat mineral dan kalsium.

Labu Siam/Waluh Jipang/Chayote Bentuk labu siam (Sechium edule) lebih kecil dari varietas lainya. Sifatnya pun bergetah dengan permukaan verbiku-biku. Labu ini cocok dijadikan olahan sayur, seperti campuran sayur asam, sambal goreng, sayur bersantan atau dikukus sebagai lalapan. Di dalam 100 gr labu siam terkandung, 6.5 karbohidrat, 0.6 protein, 0.3 mineral dan 14 mg kalsium.

Beligo/kundur Orang jarang memanfaatkan beligo (benincasa hispida) sebagai bahan masakan. Beligo biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku manisan buah kering seperti sukade. Jika dicermati, beligo sangat netral rasanya, sehingga cocok untuk campuran sop bening atau setup sayuran.
Courgette Crougette (Cucurbita Pepo) popular di dapur Eropa dan Timur Tengah. Beragam masakan lezat tercipta dari labu serupa mentimun ini. Labu muda paling cocok digunakan dalam masakan. Crougette terasa lezat jika diisi dengan daging, dibuat setup sayuran, campuran salad, maupun ditumis dengan seafood.

Butternut Squash Varietas ini rasa dan warnanya mirip labu kuning namun bentuknya oval dengan tekstur daging buah lebih lembut. Sangat cocok dijadikan aneka dessert seperti pudding, cake atau kolak. Seperti labu kuning, Butternut Squash juga sangat kaya vitamin A, C, Mineral dan Serat.

Acorn Squash/Kabucha Labu ini dipercaya berasal dari Jepang. Di pasaran ada dua jenis yang hanya beda bentuk. Acorn Squash berbentuk oval dan Kabucha bulat. Dapat dimasak menjadi beragam masakan seperti soup, stew sayuran, atau hidangan penutup.

Labu Hibrida Dengan majunya teknologi pertanian, banyak diciptakan varietas baru pada buah dan sayuran. Termasuk labu, banyak jenis baru labu diperoleh dari hasil persilangan. Dari rasa, kenampakanya dan kandungan gizinya, labu hibrida tidak jauh beda hanya saja bentuknya lebih besar, seragam dan warna yang menyimpang dari varietas aslinya.

Labu Mie Sekilas bentuk dan kenampakannya mirip labu kuning, namun jika kita potong akan nampak daging buahnya terurai menyerupai mie. Seperti labu pada umumnya, labu mie pun bisa di masak apa saja, mulai kudpanan seperti pudding, kue talam, atau diolah menjadi sayur, ditumis atau dipanggang dengan daging



BUAH PALA, MENGOBATI GANGUAN INSOMNIA, MUAL DAN MASUKANGIN

Kita biasa menggunakan bijinya sebagai bumbu masakan. Olahan daging maupun masakan bersantan terasa lebih harum dan lezat dengan menambahkan sedikit pala halus. Daging buahnya lain lagi, aromanya yang harum dengan rasa sedikit asam menjadikan daging buah pala cocok untuk bahan baku sirup maupun manisan. Kebiasaan menggunakan pala sebagai bumbu masakan atau mengkonsumsi dalam bentuk sirup dan manisan perlu digalakkan, mengingat buah dengan keharuman semerbak ini ternyata mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan. Kandungan kimia terkandung dapat mengatasi insomania, batuk berlendir, membantu pencernaan, penghilang kejang otot dll.

PALA
Buah pala berasal dari keluarga Myristicaceae. Pohon berkayu yang tingginya bisa mencapai 15 meter. Jika musim berbuah, pohon ini akan muncul bunga disetiap ujung ranting dan menjadi buah bergerombol berwarna hijau kekuningan. Daging buahnya tebal berwarna keputihan, buah ini berasa getir dan mengandung banyak getah. Setelah daging buah ada fuli, berupa selaput tipis kemerahan yang menyelimuti biji pala.
Ada tiga bagian dari buah pala yang bernilai ekonomis tinggi. Pertama daging buah yang berwarna keputihan. Daging buah pala dapat diolah menjadi manisan atau direbus dengan gula menjadi sirup pala yang terkenal lezat dan harum. Berikutnya adalah fuli, sebagian orang menyebutnya dengan bunga pala. fuli banyak digunakan sebagai bumbu masakan atau diekstrak sarinya menjadi bahan baku kosmetika dan parfum. Terakhir Bagian biji yang berwarna kecoklatan, pada bagian ini paling banyak dimanfaatkan. Dihaluskan menjadi beragam bumbu masak , parfum, kosmetik, minyak atsiri, bahan pengawet dll

Kandungan Kimia dan Manfaatnya
Berdasarkan hasil riset penelitian yang dilakukan National Science and Technology Authority, dalam bukunya Guidebook on the proper use of medicinal plants. Buah pala mengandung senyawa-senyawa kimia yang bermanfaat untuk kesehatan
Kulit dan daging buah pala misalnya, terkandung minyak atsiri dan zat samak. Sedangkan fuli atau bunga pala mengandung minyak atsiri, zat samak dan zat pati. Sedangkan dari bijinya sangat tinggi kandungan minyak atsiri, saponin, miristisin, elemisi, enzim lipase, pektin, lemonena dan asam oleanolat.
Hampir semua bagian buah pala mengandung senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan, diantaranya dapat membantu mengobati masuk angin, insomnia (gangguan susah tidur), bersifat stomakik (memperlancar pencernaan dan meningkatkan selera makan), karminatif (memperlancar buang angin), antiemetik (mengatasi rasa mual mau muntah), nyeri haid, rematik dll. Berikut ramuanya:

Ramuan Pala Berkhasiat
• Nyeri Haid.
Ambil ½ sdt pala halus, 2 cm kunyit, 6 butir ketumbar, 1 buah cengkeh dan satu gelas air. Campur semua bahan dan rebus dengan api kecil sampai airnya tinggal setengah. Saring dan minum selagi hangat.
• Insomnia.
Campur 1 sdt biji pala, 1 gelas susu segar, 1 sdt madu, 1 sdt pala halus dan ½ sdt gula batu. Rebus susu sampai mendidih, angkat dan campur dengan pala, madu dan gula batu. Aduk, saring dan minum selagi hangat.
• Mengatasi rasa mual dan muntah.
Seduh 1 sdt pala halus dengan ¼ sdt garam halus dalam 1 gelas air hangat. Aduk rata dan minum selagi hangat beserta ampasnya.
• Maag, Masuk Angin dan Cegukan.
Siapkan 100 ml air hangat, Campur dengan 1 sdt pala halus dan 2 sdt bubuk buah pisang batu. Minum beserta ampas selagi hangat. Sebaiknya pengobatan diulang sampai sembuh.
• Suara Parau.
Campur 2 sdm pala jalus dengan 2 sdm jahe parut, 1 sdt cengkeh halus dan 3 tetes minyak kayu putih. campur semua bahan sampai terbentuk adonan menyerupai pasta. Oleskan pada leher seperti memakai masker, biarkan meresap selama 3 jam. Ulangi pengobatan sampai sembuh.
• Rematik.
Bagi penderita rematik, mandilah dengan sabun pala secara teratur dan gosok pada bagian yang sakit dengan balsam pala. Kedua bahan ini dapat diperoleh di apotik atau toko obat..


BUAH DUKU ( Lansium Domesticum Corr), MENCEGAH KANKER KOLON DAN DIARE
Di Indonesia, sentra buah duku tersebar luas di wilayah Sumatra dan Jawa. Jenis yang banyak dibudidayakan adalah varietas Komering, Metesih, Condet dan Kalikajar. Buah duku dapat tumbuh subur di daerah beriklim basah dengan curah hujan tinggi. Tanaman ini termasuk jenis pohon buah musiman yang hanya berbuah setahun sekali. Biasanya bunga akan bermunculan di awal musim hujan (September-Oktober). Enam bulan kemudian buah terlihat bergelantungan di ranting dahan dan siap dipanen pada bulan Februari-Maret. Buah duku mentah berwarna hijau, bergetah dan citarasanya sangat asam. Seiring matangnya buah, kulit akan berubah kekuningan dan daging buah akan berasa manis. Sebagian besar buah duku hanya dimakan segar sebagai buah meja. Padahal kalau kita mau sedikit berkreasi, duku dapat dijadikan beragam sajian lezat dan nikmat, seperti untuk isi puding, campuran fruits cocktail atau sebagai bahan baku selai.

Dari Selai Hingga Puding Cantik
Untuk selai, siapkan 1500 gr daging buah duku yang sudah diblender halus, 600 gr gula pasir, 100 ml air, 5 gr gelatin, 30 ml air jeruk lemon dan ½ sdt vanila essens. Semua bahan dicampur jadi satu, panaskan hingga tekstur mengental dan warna kekuningan. Selagi panas simpan di dalam botol kaca, tutup rapat, kini Anda mempunyai selai duku yang lezat dan siap digunakan kapan saja. Variasi lain yang dapat dibuat adalah puding buah. Caranya buah duku dapat diblender kemudian dicampur dengan adonan agar-agar atau dibiarkan utuh untuk isi puding. Teksturnya kenyal dengan citarasa manis, segar dan sedikit asam menjadikan puding terasa lebih istimewa dan cantik tampilanya.

Sumber Mineral dan Zat Besi
Dilihat dari komposisi zat gizinya, buah duku tidak terlalu mengcewakan. Setiap 100 gr buah duku terkandung kalori 70 kal, protein 1.0 g, lemak 0.2 g, karbohidrat 13 g, mineral 0.7 g, kalsium 18 mg, fosfor 9 mg dan zat besi 0.9 mg. Untuk kandungan kalori, mineral dan zat besi duku setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan buah apel atau jeruk manis. Kandungan lain yang bermanfaat adalah dietary fiber atau serat. Salah satu zat yang bermanfaat untuk memperlancar sistem pencernaan, mencegah kanker kolon dan membersihkan tubuh dari radikal bebas penyebab kanker. Selain daging buah yang segar menyehatkan, bagian kulit buah dan bijinya juga bermanfaat untuk bahan baku obat anti diare dan menurunkan demam. Kulit kayunya juga sering digunakan orang untuk mengobati gigitan serangga berbisa dan obat disentri. Sebagian orang juga percaya, benalu pohon duku dapat menghambat dan membasmi sel-sel kanker. Sungguh tanaman yang istimewa bukan?.

Khasiat Dan Manfaat Buah-Buahan Alami Bagi Tubuh Manusia

Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual di toko-toko, buah jauh lebih aman tanpa efek samping yang berbahaya serta dari sisi harga umumnya jauh lebih murah dibanding suplemen yang memiliki fungsi yang sama.
Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi :
1. BUAH TOMAT (TOMATO)
- tomat mengandung vitamin A, B1 dan C.
- tomat dapat membantu membersihkan hati hati dan darah kita.
- tomat dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gusi berdarah.
b. rabun senja / kotok ayam.
c. penggumpalan darah.
d. usus buntu.
e. kanker prostat dan kanker payudara.
2. BUAH PEPAYA (PAPAYA)
- pepaya mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pepaya dapat membantu memecah serat makanan dalam sistem pencernaan.
- pepaya dapat mebuat lancar saluran pencernaan makanan.
- pepaya dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menghilangkan infeksi.
c. menghilangkan alergi
3. BUAH PISANG (BANANA)
- pisang mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- pisang dapat membantu mengurangi asam lambung.
- pisang bisa membantu menjaga keseimbangan air dalam tubuh.
- pisang dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gangguan pada lambung.
b. penyakit jantung dan stroke
c. stress
d. menurunkan kadar koleterol dalam darah.
4. BUAH MANGGA (MANGO)
- mangga mengandung vitamin A, E dan C.
- mangga dapat bertindak sebagai disinfektan.
- mangga dapat membersihkan darah.
- mangga dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. bau badan / bb / bau tubuh yang tidak enak.
b. menurunkan panas tubuh saat demam.
5. BUAH STRAWBERRY (STRAWBERRY)
- stoberi mengandung provitamin A, vitamin B1, B dan C.
- stobery mengandung antioksidan untuk melawan zat radikal bebas.
- strawbery memiliki kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mengobati gangguan kesehatan pada kandung kemih.
b. menjadi anti virus
c. menjadi anti kanker
6. BUAH APEL (APPLE)
- apel mengandung vitamin A, B dan C.
- aple dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
- apel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menjadi zat anti kanker.
b. mengurangi nafsu makan yang terlalu besar.
7. BUAH JERUK (ORANGE)
- jeruk mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- jeruk mengandung antikanker bagi tubuh.
- jeruk dapat mencegah dan mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. mengobati sariawan.
b. menurunkan resiko terkena kardiovaskuler, kanker, dan katarak.
8. BUAH PEAR / PIR (PEAR)
- pear mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pear mengandung anti oksidan yang baik untuk menjaga kesehatan.
- pear dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menurunkan demam / panas tubuh.
b. mengencerkan dan menhilangkan dahak pada batuk berdahak.
9. BUAH JAMBU BIJI MERAH / JAMBU MERAH (GUAVA)
- jambu merah mengandung vitamin C yang sangat banyak.
- jambu merah mengandung zat antioxidan dan antikanker.
- jambu merah mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol darah
b. mengobati infeksi.
c. menjaga mengobati sariawan.
d. memperlancar peredaran darah.
e. melancarkan saluran pencernaan.
f. mencegah konstipasi.
10. BUAH SEMANGKA (WATERMELON)
- semangka mengandung vitamin C dan provitamin A.
- semangka dapat menjadi antialergi.
- semangka mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol.
b. mencegah dan menahan serangan jantung.
11. BUAH MELON (HONEYDEW)
- melon mengandung vitamin C dan provitamin A.
- melon mengandung zat anti kanker dan anti oksidan.
- melon mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mencegah darah menggumpal.
b. membersihkan kulit.
c. menlancarkan saluran pencernaan.
d. menurunkan kadar kolestrerol.
12. BUAH WORTEL (CARROT)
- wortel kaya akan vitamin A.
- wortel baik untuk menjaga kesehatan mata.
- wortel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh jasmani.
b. menjaga hati tetap sehat.
13. BUAH BELIMBING (STAR FRUIT)
- belimbing mengandung vitamin C dan provitamin A.
- belimbing dapat membantu memperlancar pencernaan makanan.
- belimbing mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan tekanan darah.
b. menurunkan kadar / tingkat kolesterol dalam tubuh.
14. BUAH NANAS (PINEAPPLE)
- nanas mengandung vitamin B dan C.
- nanas dapat mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk.
- nenas dapat mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.
Untuk menjadi sehat alami tanpa bahan kimia makanlah berbagai buah secukupnya setiap hari demi kesehatan badan kita yang sangat berharga.

Wideband SWR meter

Everyone involved with radio transmitters needs some instruments to assess basic antenna functionality. Among these instruments, the best-known and most-used one is the Standing Wave Ratio meter. Some radio amateurs develop a cult for these little gadgets, having them in line all the time and watching the needles bounce while they chat. I have seen some guys owning 5 or 6 SWR meters, and no other instrument relating to antenna testing! While it's unfortunate that some people - specially amateurs - assign so much importance to SWR and so little to other parameters, it's also a fact that SWR needs to be known, so if you use transmitters, you need an SWR meter.
 

What is SWR?

Transmission lines have a certain characteristic impedance, typically 50 or 75 Ohm for coaxial cable, and about 300 to 450 Ohm for open-wire balanced feedline. Such an impedance stating means that the cable is naturally suited to carry a ratio of voltage to current according to this impedance - for example, a 50 Ohm coaxial cable should carry 1A for every 50V applied to it, and the phase of voltage and current should be the same. Only in these conditions will the cable transfer the most power while loosing the least, and more importantly, only if this ratio is adhered too, the ratio will stay the same along the cable! That means, if to a 50 Ohm cable you connect a load (antenna) with a different impedance, then the cable will transform this impedance, so that at the input to the cable you will have an impedance that is neither the load impedance nor the cable impedance! It's outside the scope of this article to explain in full the impedance transformations along transmission lines. You can look that up in many electronics textbooks. For now, let's go back to the theme of SWR! The fact is that the impedance transformations along a transmission line lead to sections with higher and lower voltage, and higher and lower current, called standing waves because the highs and lows are spaced in wavelengths at the operating frequency, and do not move along the cable. The voltage standing wave ratio is simply the ratio between the voltage at the highest and lowest point of such a standing wave! This ratio happens to be equal to the ratio between the highest and lowest current, and also is equal to the ratio between the cable impedance and the load impedance! Which means that it is also equal to the ratio by which the current-to-voltage ratio departs from the correct value it should have for that cable!
Examples always help to clear up misconceptions. So here goes an example: Let's say that you connect 10 meters of 50 Ohm coaxial cable to an antenna that is perfectly resonant on 146 MHz , but has a feed resistance of only 25 Ohm. This will be an SWR of 2:1, because the antenna will be taking 2 A for each 50V applied to it, twice as much as the cable likes. The cable will transform this impedance along its length: A quarter wave away from the antenna the impedance will be 100 Ohm! Another quarter wave further, it's back to 25 Ohm. This cycle repeats: Every half wave from the antenna, the impedance will be 25 Ohm, in the midpoints between them it will be 100 Ohm. At all other points along the cable, the impedance will be reactive, even if the antenna is perfectly resonant and thus has no reactance! And now, the most confusing statement for novices: Even while the impedance varies through a large range along the cable, the SWR along it stays totally constant at 2:1!  If you don't believe this, you have several choices: Try it, or study it in a book, or think about it, or close your eyes to the fact if you prefer; but the fact will not change!
In practice, a lossy coaxial cable will tend to make SWR lower as you get away from the antenna, but you need really lossy cable to notice this, and you should not use such bad cable!
Instead of this approach, you can also think of SWR in another way: Imagine the transmitter sending a wave up the cable, in the proper voltage to current ratio. This will be a traveling wave. Now, the load will reflect a portion of this wave if it is not of the same impedance as the cable. This reflected wave will travel back to the transmitter, creating interference patterns along the cable, resulting in the standing wave of voltage and current maxima and minima. While one wave travels up and the other travels down the cable, the interference patterns stay fixed. This is just another way to look at exactly the same phenomenon.
 

Common SWR meter topologies

It's easy enough to go into a radio store and buy one. You can get them in a wide variety of sizes, shapes, power ratings, frequency ranges, in analog and in digital versions, with a single meter, with two meters, with a crossed-needles meter, and I would not be surprised if you even could choose the color! But there is one department in which almost every factory-made SWR meter falls short: Frequency coverage. Many SWR meters are limited to just the HF range, just VHF, and often they are accurate only over an even smaller range. This limitation comes from the technology they use. There are a few circuit topologies in common use. One is the toroid bridge. This is basically a design in which a sample of the antenna line current is taken via a toroidal transformer, and a sample of the voltage is taken by a capacitive divider. The two samples (both converted to small RF voltages) are combined in proper phase relation and amplitude using a bridge circuit, and then rectified, the result being two DC voltages proportional to the amplitudes of direct and reflected waves on the transmission line.
This approach works well over a moderate frequency range, and even permits accurate power measurements over such a range, but at very low frequencies the current sample gets too influenced by the magnetizing current of the transformer, and the capacitive divider rises too much in impedance, so that both sample voltages become inaccurate. On the high frequency side of the range, the inter-turn capacity of the transformer plays a large role, and the capacitive divider affects the measured impedance of the transmission line, again making measurements imprecise. This circuit can be used easily over a frequency range of 1:10, and some manufacturers push it as far as 1:100 (160 m to 2m is common), but this compromises accuracy on both sides.
The other very common commercial SWR meter topology is the Monimatch. It is harder to understand for newcomers, as it is a transmission-line design employing distributed coupling between the coax line and one or two sensing wires. It is extremely simple in design, but needs to be properly built to work well, and it has a very large disadvantage: Its sensitivity varies hugely with frequency! Such a SWR meter, designed for HF, may require much more than 100W to take a reading at 160 meters, and may be burned out by a similar power on 10 meters! If you try to use it at VHF, even 1W may drive it crazy, and you will not get an accurate SWR reading.
 

The XQ2FOD SWR meter

I went back to the very basics, making an SWR meter that someone surely has built at least 100 years ago, but I have never seen it used in any commercial or homemade gear. It is a simple resistive bridge. It works perfectly well over a very wide frequency range, is highly accurate over it, and is very simple and cheap to build. Are you interested? If so, then I have to tell you about the disadvantages too: It can only digest low power. A half Watt is more than enough for good measurements at any frequency, and up to 2W is OK. Above this, it will start smoking! So, if you want to measure SWR using your 100W transceiver, you had better remember turning the power down before connecting the meter. Of course, measuring SWR of antennas at low power means much reduced chance of creating interference to others! It also means eliminating any risk of burning up the transmitter by measuring an unknown load with very high SWR - more so as the resistive loading provided by this meter will guarantee that your transmitter never sees more than 2:1 SWR, regardless of what you do at the meter's output! This meter is designed as a test instrument, to be connected, used for taking the necessary readings, and then disconnected. It makes no sense to leave it in the line permanently, like some people do, because it eats up 3/4 of the transmitted power, and a similar part of a received signal.
Here is the schematic of the SWR meter, exactly as I published it in the Chilean magazine Radioafición. You can also get a high resolution version for printing purposes by clicking on the image. I hope the few Spanish words will not upset you too much. I was too lazy to edit them...
Three pairs of 100 Ohm resistors are combined in a bridge circuit, with the load as the fourth resistor. D1 rectifies a sample of the input signal, while D2 rectifies the differential voltage across the bridge, which is proportional to the square root of reflected power. In this case the two output voltages are applied to a ganged potentiometer and to two simple galvanometers, but I have built several other units in which these voltages are used by digital displays, microprocessors, etc.
Let's do some analysis: At first we will assume a 50 Ohm load is connected to the antenna side, and a 5Vrms RF signal is applied to the input (this would be 1/2W across 50 Ohm). At the anode of D1 we would have 2.5Vrms, or 3.5V peak, which would give 3.5V DC (the voltage drop of the germanium diode is negligible at the low current involved). D2 would see exactly the same RF voltage at both sides, and in the same phases, so it will not produce any DC output. The forward meter will move (we can set the pot to place the needle at full scale), while the reflected signal meter will stay at zero, indicating a 1:1 SWR. The transmitter will see 2 times 100 Ohm in parallel, or 50 Ohm, 1:1 SWR too. One quarter of the power will be dissipated in each of the resistor pairs, while the remaining quarter gets delivered to the antenna.
Now let's go to one extreme: Disconnect the load! We all know that this is infinite SWR. D1 would still see half of the input voltage, and as there is now no current in R1/R2, and no voltage drop across them, D2 sees "the other half" of the input voltage, and thus produces the same rectified output as D1 does. Both meters will deflect by the same amount, indicating that all power is being reflected, and the SWR is infinite. The transmitter will see 100 Ohm load, a 2:1 SWR, far away from causing danger to any transmitter. And that is the worst SWR it will ever see through this meter.
Third test:  Let's short circuit the output!  We know that this too is infinite SWR. And from the circuit it's clear enough that with the antenna terminal shorted, both diodes see the same voltage - same deflection on both meters, infinite SWR, and the transmitter sees 50 Ohm in parallel with 100 Ohm, which is 33 Ohm, or 1.5:1 SWR.
Let's now run the example posed in the SWR explanation near the top of this page: A 25 Ohm load. We know this should be 2:1 SWR. D1 will as always see half the input voltage, while D2 will have half the input voltage on one side and only one third on the other side. So it sees one sixth  of the input voltage, which is one third as much as D1 sees. When the pot is adjusted for the forward meter to show full scale, the reflected signal meter will indicate one third scale, equivalent to one ninth power. At this point the 2:1 mark must be placed on the meter.
And if the impedance is 100 Ohm? In this case D2 sees two thirds of the input voltage on one side, still one half at the other. The difference still is one sixth of the input, still one third of what D1 sees, and the reflected signal meter will correctly deflect to the 2:1 SWR mark.
What happens if the impedance of the load is 50 Ohm, but with nonzero phase angle? In that case, both the voltage and the phase of the RF signal at D2's cathode will deviate. The funny, curious and nice thing is that whatever values you may try, the resulting rectified DC voltage is always correct! Try it, if you feel like doing some math! I will limit myself to showing you an extreme example: Say, you connect a capacitor that has 50 Ohm reactance (a 470pF one would be close to this at 40 meters). We know that a capacitor cannot dissipate power, so the SWR meter had better show infinite SWR! Let's see:
The compounded impedance of our 470pF "antenna" and R1/R2 is 70.7 Ohm, 45 degrees. The current through them will thus be 0.0707A, phase-advanced by 45 degrees. Then the voltage across the capacitor will be 3.53V, phase-lagging by 45 degrees. As the voltage at D2's anode is still 2.5V at phase zero, the angular compounding produces another 2.5 V across D2, phase-lagging by 90 degrees. The phase information gets lost in the rectification, but the 2.5 Vrms magnitude is the same seen by D1, thus the two DC outputs are equal, indicating infinite SWR. Nice, huh? You can measure reactive parameters without needing reactive components in the instrument!
 

Construction

One of the nicest things about this project is that it's easy to build and requires no calibration. Just be sure to mount the RF-carrying components with the shortest leads you can, directly on the antenna connector. The input connector can be farther away, that's not so critical. Place the 100 Ohm resistors physically close to the ground plane, so that the parasitic capacitance cancels out lead inductance. Do not use single 50 Ohm resistors, they are too inductive! The ideal is either 2 of 100 Ohm like I did here, or even 3 units of 150 Ohm each. If you use even more resistors in parallel, of higher values, the result tends to be somewhat capacitive. The diodes work at higher impedance, so their leads may be a little longer, and they should NOT be physically close to the ground! The cabling of the potentiometer and meters carries DC only and is totally uncritical. You will need to draw the meter scales. The forward meter should be marked just with the "set" point near full scale, and if you like it, you can subdivide it into percentile power markings (remember that power is proportional to the square of voltage, so 25% power is at mid scale). You may also calibrate the meter in absolute power for a specific setting of the potentiometer.
The reflected signal meter is best marked directly in SWR. The infinite mark goes at the same level where the set point of the forward power meter is. 3:1 SWR is at 1/2 of that, 2:1 SWR at 1/3, while 1.5:1 SWR goes at 1/5 of the scale. If you want to add marks for the high range too, 5:1 SWR is at 2/3 of the range, and 10:1 is at 82%. If you want additional markings, it's good to know this equation:
SWR = (1+p) / (1-p)       where p is the position on the meter scale, ranging from 0 to 1.


Performance

I have build over 10 versions of this circuit over the years. The original one shown in the schematic appears on this photo. It uses germanium diodes, half-Watt carbon film resistors and SO-239 connectors. It works well from the lowest frequencies I have cared to try it (around 1 MHz), up to 150 Mhz with high accuracy, and 500 Mhz with degraded accuracy (showing 1.3:1 SWR for a pure 1:1 one). 


Another version I built uses 1/4 Watt resistors and Schottky (hot carrier) diodes. I built it into a copper tube of 20 mm, with one BNC connector on each end, bringing out the DC signal leads. That one works well from the same low frequency, up to about 1500 MHz, with good performance, and gets kinky at around 2 GHz.


Some time ago, I got a Digital SWR meter, an Daiwa DP-830, very cheaply. That meter has two independent sensors: One is a current sensor/voltage divider circuit which is rated for HF and up to 150MHz at high power. It uses SO-239 connectors and works very well at HF, but on the 2 meter band it is not very accurate. The second sensor is a monimatch, rated for 2 meters through 70 centimeters, using N-type connectors. It's quite usable as an SWR meter, even if not laboratory grade, but the power measurement is nonsensical with this sensor.
So I decided to add a third sensor, for low power work over the entire spectrum. I used BNC connectors, in order to have an additional choice of connectors on the meter...  The third sensor was installed on the back of the instrument, and from the outside looks like it was factory-made. On the inside it doesn't - but it works very well, providing high accuracy all the way  from 160 meters right through 23 centimeters. This sensor uses quarter-Watt resistors with minimal lead lengths, tucked close to the case in order to compensate for the stray inductance by stray capacitance, and the diodes are HP-2800 Schottky ones. The output resistors were selected so that the power indication on the digital meter has a fixed, known relationship to the real power: 1:50. So, for 2 Watt input power the meter reads 100 Watt. That's mighty fine for impressing your buddy with how much power your handy delivers! :-)


Just for the fun of it, I put together one using surface mount components and SMA connectors, with proper care for the impedance of traces. I could not really find out its upper frequency limit, being short on test equipment, but at least from 1Mhz to 4GHz it worked well!  I have no photo of that one, but here is a photo of a surface mount sensor  built by Alexei. He kindly sent me this photo, which illustrates well how the meter can be built. Note that all parts carrying RF are assembled close together, close to the output connector, on a ground plane that helps keep the impedances down. How high in frequency the meter can work, depends on things like the board's dielectric constant, the sizes of the parts and the tracks, and so on. Without caring much for these things, but building the sensor as compact as shown here, it will work far into the UHF range. With proper trace impedances, and hot carrier diodes, it should work well into the SHF range.

I don't think you will ever see an SWR meter with this circuit offered commercially. It has the weakness of blowing up if you accidentally pump more than a few Watt into it, and manufacturers would probably not trust their customers to handle the product with care. But a home builder is much more aware than the average user of what he is doing, so I trust you! And if you anyway blow it up, at least you can replace the burnt resistors yourself, and they are really cheap!