Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

Proses Terjadinya Pulau Sulawesi

“Pada mulanya belum ada Sulawesi. Yang
ada hanyalah laut di antara dua pulau. Lalu kedua pulau itu
bertabrakan. Maka jadilah pulau Sulawesi. Itu sebabnya pinggangnya
bergunung-gunung, banyak sungai, dan banyak besi, banyak emas” Begitulah
kata-kata orang tua (pakada tomatua).
Mitologi Toraja lain lagi, dalam
mitologi toraja digambarkan bahwa penutup bumi dulunya terlalu kecil,
sehingga para dewata mengurut-urut bola bumi, supaya bajunya pas.
Tahu-tahu, kebesaran, sehingga terjadilah kerut-kerut dan
lipatan-lipatan yang merupakan asal usul gunung gunung.
Profesor John A. Katili, ahli geologi
Indonesia yang merumuskan geomorfologi Pulau Sulawesi bahwa terjadinya
Sulawesi akibat tabrakan dua pulau (Sulawesi bagian Timur dan Sulawesi
bagian Barat) antara 19 sampai 13 juta tahun yang lalu, terdorong oleh
tabrakan antara lempeng benua yang merupakan fundasi Sulawesi Timur
bersama Pulau-Pulau Banggai dan Sula, yang pada gilirannya merupakan
bagian dari lempeng Australia, dengan Sulawesi Barat yang selempeng
dengan pulau-pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatra, Sulawesi menjadi salah
satu wilayah geologis paling rumit di dunia.
Sederhananya boleh dikata bahwa busur
Sulawesi Barat lebih vulkanis, dengan banyak gunung berapi aktif di
Sulawesi Utara dan vulkan mati di Sulawesi Selatan. Sedangkan busur
Sulawesi Timur, tidak ada sisa-sisa vulkanisme, tapi lebih kaya mineral.
Sumber-sumber minyak dan gas bumi dari zaman Tertiary tersebar di
kedua busur itu, terutama di Teluk Tomini, Teluk Tolo, Teluk Bone,
serta di Selat Makassar.
Perbedaan geomorfologi kedua pulau yang
bertabrakan secara dahsyat itu menciptakan topografi yang bergulung
gulung, di mana satu barisan gunung segera diikuti barisan gunung lain,
yang tiba-tiba dipotong secara hampir tegak lurus oleh barisan gunung
lain. Kurang lebih seperti kalau taplak meja disorong dari beberapa
sudut dan arah sekaligus.Makanya jarang kita bisa mendapatkan
pemandangan seperti di Jawa, Sumatera, atau Kalimantan, di mana
gununggunung seperti kerucut dikelilingi areal persawahan atau hutan
sejauh mata memandang. Kecuali di Sulawesi Selatan (itupun di selatan
Kabupaten Enrekang), kita sulit menemukan hamparan tanah pertanian yang
rata.
Sederhananya, Sulawesi adalah pulau
gunung, lembah, dan danau, sementara dataran yang subur, umumnya
terdapat di sekeliling danau-danau yang bertaburan di keempat lengan
pulau Sulawesi. Ekologi yang demikian ikut menimbulkan begitu banyak
kelompok etno-linguistik. Setiap kali satu kelompok menyempal dari
kelompok induknya dan berpindah menempati sebuah lembah atau dataran
tinggi di seputar danau, kelompok itu terpisah oleh suatu benteng alam
dari kelompok induknya, dan lewat waktu puluhan atau ratusan tahun,
mengembangkan bahasa sendiri. Geomorfologi yang khas ini menyebabkan
pinggang Sulawesi Tana Luwu dan Tana Toraja di provinsi Sulawesi
Selatan, bagian selatan Kabupaten Morowali, Poso, dan Donggala di
provinsi Sulawesi Tengah, dan bagian pegunungan provinsi Sulawesi Barat
sangat kaya dengan berbagai jenis bahan galian.Batubara terdapat di
sekitar Enrekang, Makale, dan Sungai Karama.
Juga di Sulawesi Barat sebelah utara, di
mana terdapat tambang batubara dan banyak jenis logam tersebar di
berbagai pelosok Sulawesi. Tembaga dan nikel terdapat di sekitar
Danau-Danau Matano, Mahalona dan Towuti. Bijih besi bercampur nikel,
yang diduga berasal dari meteor, memungkinkan lahirnya pandai besi di
lembah-lembah Rampi, Seko dan Rompong di hulu Sungai Kalaena (Luwu
Utara) dan di Ussu, dekat Malili (Luwu Timur), yang ilmunya ditularkan
ke pandai besi asal Toraja, yang selanjutnya menularkannya ke pandai
besi Bugis. Guratan besi-nikel itu dikenal sebagai pamor Luwu atau pamor
Bugis oleh empu penempa keris di Jawa, dan membuat Kerajaan Luwu kuno
dikenal sebagai pengekspor besi Luwu. Di masa kini, salah satu pusat
konsentrasi pandai besi Toraja letaknya di lereng Sesean, gunung
tertinggi di Tana Toraja. Bijih emas pun banyak terdapat di pinggang
Sulawesi, karena biasanya mengikuti keberadaan bijih tembaga. (Dari
berbagai Sumber)

Menurut para ahli Geologi, bahwa terbentuknya pulau Sulawesi yang terjadi secara alamiah oleh proses alam, memang berbeda dengan proses terbentuknya pulau-pulau yang lain di Negara Kepulauan Nusantara ini, bahkan hanya beberapa pulau di dunia yang mempunyai kesamaan dalam proses terbentuknya. Pulau Sulawesi terbentuk dari proses Endogen, yaitu proses yang terjadi karena adanya Pengangkatan dari dalam perut bumi. Artinya pembentukan pulau Sulawesi terjadi dengan sendirinya, tidak seperti pulau-pulau lain yang proses pembentukannya merupakan hasil Patahan/Pelepasan Daratan dari suatu Daratan Utama/Benua. Seperti pulau Jawa yang dulunya bersatu dengan pulau Sumatra dan bersatu dengan Malaysia terus ke daratan Asia. Pulau Kalimantan dulunya bersatu dengan sebagian daerah Malaysia terus ke Philipina terus ke daratan Asia. Pulau Maluku dulunya bersatu dengan Irian Jaya (kini Papua) bersatu dengan Papua New Guinea terus ke daratan Australia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya persamaan flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) di antara masing-masing wilayah tersebut. Berbeda halnya dengan pulau Sulawesi yang memang dulunya terbentuk dengan sendirinya dari proses Endogen. Jadi pulau Sulawesi terbentuk bukan dari proses perpisahan daratan oleh proses alam dari dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia apalagi benua-benua lain. Hal ini terbukti dari ada beberapa jenis flora dan fauna yang tidak ada samanya di dunia, sebagai contoh hewan Anoang (sejenis hewan Rusa) dan hewan Kerbau Belang (Tedong Bonga) di Tana Toraja.

PROSES TEKTONIK YANG MEMBENTUK PULAU SULAWESI
Mungkin anda masih ingat tentang pelajaran Geografi di Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama, bahwa fauna di pulau Sulawesi sungguhlah unik. Fauna di sana seperti perpaduan antara fauna dari daerah Asia dengan fauna dari daerah Australia. Mengapa demikian ? Dalam sejarah geologi yang panjang, Sulawesi terbentuk sebagai hasil tumbukan 2 jalur daratan yang mengapung. Pembentukan daratan yang baru membawa dampak : ekologi yang unik. Setiap lempeng menempatkan jejak yang masih dapat ditemui hingga kini. Beberapa spesies yang hidup di danau Matano ( sebuah danau di pulau Sulawesi ), seperti kepiting Parathelphusidae memiliki kerabat dekat dengan yang ada di selat Torres Australia ; ikan Telmatherinid masih berhubungan dengan daratan Papua ; jenis dari lempeng Pasifik terdapat ikan Glossogobius ; dan Asia menyumbangkan ricefish. Studi di wilayah ini menambah daftar keunikan hayati kawasan Wallacea, yang berasal dari sebuah garis maya yang membagi wilayah fauna bagian barat dan timur melalui laut dalam.
Berikut skema terbentuknya Pulau Sulawesi :

EOSEN ( 65-40 juta tahun yang lalu )
Proses pembentukan pulau Sulawesi yang unik telah melalui proses yang juga unik yaitu hasil akhir dari sebuah kejadian apungan benua yang diawali 65 juta tahun lalu. Saat itu ada 2 daratan yaitu cikal bakal kaki Sulawesi Tenggara dan Timur, dan cikal bakal kaki Sulawesi Selatan, Barat dan Utara. Kedua apungan daratan itu terbawa bergerak ke barat menuju Borneo ( sekarang bernama Kalimantan ). Proses tumbukan akibat apungan lempeng benua itu menyebabkan kedua daratan itu mulai terkumpul menjadi satu daratan baru.
MIOSEN ( 40-20 juta tahun yang lalu )
Pada zaman ini pergerakan lempeng kearah barat disertai dengan persesaran yang menyebabkan mulai terjadi perubahan ekstrim bentuk daratan. Bagian tengah ketiga daratan itu tertekuk akibat benturan atau pergeseran, sebuah proses yang lebih kuat dibandingkan apa yang terjadi di kedua ujung atas dan bawahnya ( daratan utara dan selatan ). Proses tektonik berlangsung kuat di daerah yang tertekuk itu sehingga menyebabkan pencampur-adukan jenis-jenis batuan yang berasal dari lingkungan pengendapan yang berbeda.

PLIOSEN ( 15-6 juta tahun yang lalu )
Hingga zaman ini proses penumbukan kedua daratan itu terus berlangsung, bahkan apungan hasil tumbukan terus bergerak hingga mendekat ke daratan Kalimantan lalu berhenti di sana. Persesaran yang telah mulai sejak zaman Miosen masih terus berlangsung, bahkan berdampak apada pemisahan kelompok batuan dari kawasan di sekitar danau Poso dan kelompok batuan sekitar danau Matano. kedua kelompok batuan ini meski lokasinya berdampingan, namun memperlihatkan asosiasi batuan yang berbeda.
PLITOSEN ( 4-2 juta tahun yang lalu )
Pada zaman ini mulai berlangsung fenomena baru, yaitu proses pemekaran dasar samudra di laut antara Kalimantan dan Sulawesi ( sekarang dikenal dengan selat Makasar ). Pemekaran dasar samudra ini menyebabkan cikal bakal atau pulau Sulawesi purba. Dan pulau Sulawesi purba ini kembali bergerak ke timur menjauhi Kalimantan. kecepatan gerakan apungan di atas lempeng benua adalah peristiwa yang berlangsung perlahan namun konsisten dengan laju beberapa centimeter pertahun.
Sumber : National Geographic Indonesia

Kamis, 24 Mei 2012

Jembatan terpanjang di dunia (Qingdao Haiwan)



Jembatan Qingdao Haiwan adalah jembatan terpanjang di dunia yang ada di China. Jembatan Qingdao Haiwan ini menelan biaya 8.6 Milyar Dollar, dikerjakan oleh 10.000 orang terbagi dalam 2 tim, dan bertujuan untuk menyingkat hubungan 2 kota agar lebih cepat antara 20 - 30 menit.

Jembatan sepanjang 42,5 kilometer yang memiliki persimpangan ditengahnya tersebut menghubungkan tiga kota di Cina. Jembatan Qingdao Haiwan menghubungkan Kota Qingdao di sebelah timur Provinsi Shandong dengan Distrik Huangdao. Diakui ini adalah jembatan di atas air yang terpanjang di dunia.

Jembatan bernama Qingdao Haiwan tersebut dibangun dua tim berbeda yang mengerjakan sejak 2006. Pembangunan selesai pada Senin (27/12). Jembatan yang menghubungkan tiga kota pantai di Provinsi Shandong ini menghabiskan 450 ribu ton struktur baja untuk membuat 5.200 kolom agar kuat menahan gempa berkekuatan 8 SR, angin topan dan 300 ribu vessel.

Jembatan Qingdao Haiwan menyisihkan jembatan Lake Pontchartrain Causeway di Louisiana, Amerika Serikat. Lake Pontchartrain Causeway memiliki panjang 38,42 kilometer. China juga memiliki 102 mil jembatan kereta ai di Danyang - Kunshan yang berada di atas tanah dan lau sebelah Shanghai.












China juga merencanakan membangun jembatan lagi seharga 6.5 Milyar Pounsterling pada tahun 2016 yang akan menghubungkan kota Zhuhai.

Ngarai & Lembah yang Indah di Bumi

Jurang atau ngarai adalah salah satu keajaiban alam, Yang diukir selama ribuan tahun oleh sungai yang deras. Kebanyakan ngarai terbentuk oleh proses erosi yang lama dari level plateau. Tebing terbentuk karena batuan keras yang tahan terhadap erosi dan pelapukan terekspose pada dinding lembah. Ngarai menawarkan beberapa pemandangan yang paling dramatis di bumi (dan bahkan di tata surya), tidak hanya karena kecuraman atau keterjalannya, tetapi juga karena kecantikannya yang sering berbaring tersembunyi di bawah tanah.

Catatan: kata Canyon umumnya digunakan di Amerika Serikat, sedangkan kata Gorge adalah lebih umum digunakan di Eropa.



Todra Gorge
Todra Gorge terletak di sisi timur terpencil di Pegunungan High Atlasi dan merupakan salah satu tempat wisata populer di Maroko. 600 meter akhir dari Todra Gorge adalah yang paling spektakuler saat ngarai menyempit ke trek berbatu datar dengan lebar hanya 10 meter (33 kaki) diantara dinding tebing yang terjal dan halus yang tingginya hingga 160 meter (525 kaki).




11. Kings Canyon
King Canyon adalah salah satu atraksi wisata utama di daerah gurun selatan dari Northern Territory di Australia. Formasi kubah Enigmatic, tebing yang tajam, dan pemandangan yang indah dari gurun di sekitarnya dapat dinikmati oleh pengunjung yang berjalan sekitar tepi ngarai. Bagian dari ngarai adalah sebuah situs suci Aborigin dan pengunjung disarankan untuk berjalan keluar dari jaluri.




10. Taroko Gorge
Terletak dekat pantai timur berbatu Taiwan, Taroko Gorge merupakan salah satu atraksi wisata terbesar di pulau itu. Ngarai ini memiliki panjang 19 kilometer dan menawarkan sejumlah jalur hiking yang berbeda melalui pemandangan yang menakjubkan dari tebing dan jeram yang spektakuler.




9. Copper Canyon
Copper Canyon sebenarnya adalah jaringan ngarai yang jika bersama-sama besarnya beberapa kali lebih besar dari Grand Canyon. Cara yang paling populer untuk mengeksplorasi Copper Canyon adalah dengan Kereta Api "al Chihuahua Pacifico". Trek melewati 37 jembatan dan melalui 86 terowongan, naik setinggi 2.400 meter (7.900 kaki) di atas permukaan laut menawarkan pemandangan indah dari lembah di bawahnya.




8. Colca Canyon
Colca Canyon adalah ngarai Sungai Colca, di pegunungan Andes, di selatan Peru. Ngarai ini dalamnya ldua kali lebih dalam dari Grand Canyon, tapi dinding ngarainya kurang curam. Daya tarik besar di sini, selain pemandangan yang mengagumkan, adalah condors Andes. Condor-condor dapat dilihat dari jarak cukup dekat saat mereka melayang.




7. Samaria Gorge
Samaria Gorge adalah ngarai sepanjang 16 km di barat daya Kreta. Perjalanan di Ngarai Samaria sangat populer dan lebih seperempat juta orang melakukannya setiap tahun. Perjalanan memakan waktu 4-7 jam dan melewati hutan cemara dan pinus kuno, kemudian memotong sangat dalam antara tebing-tebing vertikal melalui pegunungan dan muncul di Agia Roumeli di laut Libya, di mana wisatawan dapat berlayar ke desa terdekat, Sfakion Hora.




6. Waimea Canyon
Waimea Canyon, yang terletak di sisi barat Kauai, adalah ngarai terbesar di Pasifik dan salah satu yang paling berwarna di dunia. Ngarai ini memiliki panjang 16 km (10 mil), lebar 1,6 km (1 mil) dan dalamnya 1.100 (3.600 kaki) meter. Terukir ribuan tahun yang lalu oleh sungai yang mengalir dari Gunung Waialeale di tengah pulau.




5. Antelope Canyon
Dengan kurva anggun di batu dan warna oranye dan ungu menyala, Antelope Canyon adalah salah satu ngarai sempit batu pasir yang paling sering difoto di dunia. Ini mencakup dua ngarai fotogenik yang terpisah - Antelope Atas dan Bawah. Kedua lembah begitu sempit sehingga di tempat-tempat tertentu, orang dapat menyentuh kedua sisi dengan meregangkan tangan. Meskipun ngarai yang indah, mereka kadang-kadang bisa berbahaya. Pada tahun 1997 banjir bandang menyapu Antelope Bawah dan menewaskan 11 wisatawan.




4. Gorge du Verdon
Ngarai du Verdon adalah ngarai sungai di bagian tenggara Perancis yang dianggap oleh banyak orang di Eropa yang paling indah. Ngarai ini sekitar 25 kilometer panjangnya dan menjulang secara spektakuler sekitar 700 meter (2.300 kaki) dari sungai Verdon. Sungai, yang dinamai dari warna hijau zamrudnya, adalah salah satu fitur ngarai yang paling indah. Daerah ini telah menjadi magnet untuk para hikers, pendaki dan pecinta olahraga air yang meliputi rafting, kayak, berlayar dan ski air.




3. Tiger Leaping Gorge
Tiger Leaping Gorge terletak di Sungai Yangtze di Cina barat daya. Sekitar 15 km (9 mil) panjangnya, ngarai melewati serangkaian jeram dikelilingi oleh pegunungan di kedua sisi yang menjulang tajam 3.000 meter di atas sungai. Ngarai ini diyakini sebagai ngarai terdalam di dunia - tergantung pada kriteria yang diterapkan. Intinya, ini adalah ngarai sempit yang hanya memiliki lebar 30 meter.




2. Fish River Canyon
Canyon Fish River adalah nomor kedua dalam hal kemegahan setelah Grand Canyon di Arizona dan salah satu atraksi wisata utama di Namibia. Ngarai ini mutlak megah dan menakjubkan karena sedemikian besar. Ngarai ini memiliki jurang raksasa, total sekitar 160 km (100 mil) panjangnya, dan memiliki lebar hingga 27 km dan di beberapa tempat dalamnya hampir 550 meter. Karena Fish River sedang dibendung, maka ngarai ini hanya berisi sejumlah kecil air yang mengalir.




1. Grand Canyon
Grand Canyon terletak di utara Arizona dan merupakan salah satu daya tarik wisata yang besar di Amerika Serikat. Diukir selama beberapa juta tahun oleh Sungai Colorado, ngarai ini mencapai kedalaman lebih dari 1,6 km (1 mil) dan 446 km (277 mil) panjangnya. Grand Canyon bukanlah ngarai terdalam atau terpanjang di dunia namun ukurannya yang luar biasa dan lanskap yang rumit dan berwarna-warni menawarkan pemandangan spektakuler yang tak tertandingi di seluruh dunia.

Selasa, 08 Mei 2012

Gua Seplawan Purworejo

Pemandangan jalan masuk goa seplawan purworejo
Inilah salah satu wisata yang berada di daerah Purworejo. Goa Seplawan ini terletak di desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing purworejo. Sekitar 30 menit dari kota Purworejo yang ditempuh dengan jalananan yang berliku-liku. Goa Seplawan ini berada di kaki pegunungan sehingga udara di sini terasa sejuk. 
Jika anda sudah  masuk ke Goa seplawan anda akan menikmati pemandangan luar biasa untuk masuk ke dalam goa seplawan. Dengan jalur anak tangga anda seolah-olah masuk ke dalam perut bumi. Goa plawan ini panjangnya sekitar 700 meter ke dalam namun jalannya tidak tembus sehingga ketika sudah sampai ujung kita harus kembali ke jalan tadi. Namun untuk masuk ke dalam goa butuh perjuangan yang panjang. Kondisi dalam goa yang masih ada air tanah yang mengalir serta jalan sempit yang tertutup dengan stalagtit goa menjadikan petualangan seru. Jika anda masuk ke goa ini sebaiknya membawa sandal yang tidak membuat licin karena medannya disini terasa licin. Namun petualangan itu terbayar dengan pemandangan di dalam goa yang begitu indah.
Pemandangan jalan pintu masuk goa seplawan purworejo
Pemandangan jalan pintu masuk goa seplawan purworejo
Pemandangan jalan masuk goa seplawan purworejo
Pemandangan jalan masuk goa seplawan purworejo
Di dalam goa kita bisa menikmati lukisan lukisan goa. Beberapa didalamnya kita bisa menikmati pembentukan goa seperti stalagtit, stalagmit, stone flow. Jalurnya sudah terang karena sudah ada lampu lampu penerang sehingga kita tidak perlu membawa senter penerangan. Selain itu ada anak kecil pemandu yang mau mengantarkan saya pas mengunjungi goa seplawan ini.
petualangan ke gua seplawan
petualangan ke gua seplawan
Goa ini dulu begitu terkenal ketika ditemukan patung emas dewa Syiwa seberat 1,5 KG di dalam goa tersebut pada tahun 1979. Bentuk patung dewa Syiwa tersebut dibuat patungnya di dekat pintu masuk goa seplawan. Sekarang patung emas itu berada di Monumen Nasional di Jakarta. Seketika itu juga goa Seplawan itu langsung dijadikan obyek wisata oleh pemerintah kota Purworejo.
bentuk patung emas yang ditemukan di goa seplawan purworejo
bentuk patung emas yang ditemukan di goa seplawan purworejo
Selain itu disekitar goa juga ditemukan lingga dan yona seperti halnya di candi candi hindu lainnya di Jawa. Karena dulunya goa ini adalah bekas untuk tempat bertapa. Sebenarnya sampai sekarang pun masih. Menurut keterangan bapak penjaga kamar mandi dan musholla di daerah goa ini.
Begitu kita keluar goa kita bisa menikmati pemandangan yang indah di luar goa. kita bisa menikmati pemandangan tumbuh-tumbuhan dan karang batuan hasil penciptaan alam yang indah. Selain itu jika kita tidak puas menikmati goa yang ada. kita bisa naik ke atas ke gardu pandang goa seplawan untuk melihat pemandangan dari puncak bukit. jaraknya tidak terlalu jauh. Jika cuaca cerah kita bisa melihat kota jogya, laut, gunung merapi dan merbabu dari puncak menara pandang ini. Indah bukan.
Pemandangan dari gardu pandang Goa Seplawan daerah purworejo
Pemandangan dari gardu pandang Goa Seplawan daerah purworejo
tiket masuk goa ini tergolong murah. kita cukup membayar 3ribu rupiah untuk menikmati goa ini. Namun yang susah adalah akses menuju goa ini karena tidak adanya transport umum ke goa ini. Saya bersama teman teman terpaksa menyewa angkot dari pasar kota untuk membawa saya pulang pergi ke goa ini sampai sore.
Selain itu jika kita ke goa seplawan kita bisa melihat rumah penginapan yang terbuat dari jati namun tidak terawat dan tidak terpakai lagi. sangat disayangkan. Sebenarnya bentuk rumahnya bagus. dari kayu jati dan beratapkan jerami. Namun tempatnya tidak terawat. Lantai sudah jebol dan tidak dipakai sama sekali.
Rumah penginapan di Gua Seplawan Purworejo
Rumah penginapan di Gua Seplawan Purworejo
Selama perjalanan ke goa ini. dari arah kiri kanan jalan banyak ditemukan pohon durian. Jika bertepatan dengan panen durian maka kita bisa mendapatkan durian yang murah disini.

View Larger Map

Jumat, 06 April 2012

TAMAN WISATA ALAM AIR TERJUN WERA ,Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

TAMAN WISATA ALAM AIR TERJUN WERA
air terjun wera 1. STATUS
Taman Wisata Wera berdasarkan Sk. Menteri Pertanian No. 843/Kpts/Um/11/1980 tanggal 11 Januari 1980 dengan luas ± 250 hA. Kawasan ini termasuk dalam kelompok hutan Wera (hutan lindung Wera) dan memilik potensi wisata yang besar berupa panorama alam yang indah dan Air Terjun Wera,

2. FISIK
Letak
menurut administrasi pemerintahan termasuk di dalam wilayah Desa Balumpewa, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah.
Geografis
secara geografis kawasan Taman Wisata Wera terletak antara 1°2′-1°3′ LS dan antara 119° 50′ – 119° 51′ BT,

Batas Kawasan
Batas sebelah Utara : Daerah perbukitan sepanjang wilayah Dusun Ngatapapu.
Batas sebelah Timur : Batas Hutan Lindung Wera yang berbatasan langsung dengan lokasi Asrama Yayasan Misi Masyarakat di Pedalaman (YMMP).
Batas sebelah Barat : Dusun Ngatapapu memotong hulu Sungai Wera.
Batas sebelah Selatan : Kawasan hutan perbukitan sebelah selatan sungai Wera.

Topografi :
Wilayah Sulawesi Tengah sebagian besar merupakan Daerah pegunungan dan perbukitan diselingi oleh lembah-lembah, sungai dan dataran tinggi. Kawasan Taman Wisata Wera sebagian besar merupakan daerah perbukitan dengan kondisi topografi pada umumnya berlereng sampai terjal dengan kemiringan antgara 60% s/d 95% terdapat lembah yang sempit yang merupakan aliran sungai Wera yang agak datar terdapat pada bagian bawah disekitar desa Balumpewa dengan ketinggian dari permukaan laut 150 m s/d 800 m dpl.

Geologi dan Tanah
air terjun wera sigiBerdasarkan Peta Geologi Indonesia dari Direktorat Geologi Indonesia (1965) dan peta Tanah Tinjau LPT (1966), formasi geologi Taman Wisata Wera termasuk batuan sedimen marin, aluvium induk dan terumbu koral. Jenis tanahnya : alluvial dan potselik dengan bahan endapan musolium tanah cukup dalam, tekstur lempung sampai liat, sering berlapis-lapis debu dan pasir.

Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson kawasan Taman Wisata Wera termasuk dalam tipe B, dengan nilai Q= 0,213. dengan curah hujan rata-rata setahun 1.589 mm/tahun.

Hidrologi
Kawasan Taman Wisata Wera ini dialiri oleh satu sungai utama yaityu sungai Wera, Pada bagian hulu terdapat dua buah anak sungai yang mengalir masuk dan membentuk sungai Wera. Sungai ini mengalir melalui celah yang terjal pada celah-celah perbukitan yang curam dan membentuk jeram (terjunan) setinggi ± 80 m. Pada bagian bawah yang agak datar sungai Wera mengalir ke arah Timur ke Desa Kaleke dan sekitarnya. Karena melalui aliran yang terjal dan berbatu-batu, sungai ini tidak begitu lebar (hanya sekitar 2-3 m) dengan kedalaman kurang dari 50 cm.

3. BIOLOGI
Potensi Flora
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan hasil inventarisasi flora dan fauna yang pernah dilaksanakan sebelumnya, kawasan Taman Wisata Wera ini termasuk daerah yang kritis dengan lereng yang curam serta labil dengan kondisi vegetasi penutup tanah yang relatif kecil: sebagian besar permukaan tanah ditumbuhi padang rumput dan semak-semak/hutan sekunder. Bagian yang agak nerhutan terdapat pada celah bukit dan lembah disekitar sungai Wera. Keadaan vegetasi di kawasan ini relatif jarang terutama dari kondisi hutan yang sebagian besar semak belukar dan hutan sekunder (Tua).
Hanya pada bagian lereng yang terjal pada sekitar 50 – 100 m pada kiri kanan alur sungai yang masih tertutup hutan yang utuh, termasuk pada bagian hulu yang kondisi medannya juga terjal. Hal ini menyebabkan sampai saat ini aliran sungai Wera relatif masih baik dan mengalir sepajang tahun, karena baik alirannya maupun daerah tangkapan air di daerah hulu relatif masih baik (karena kondisi alam yang sulit sehingga tidak dapat dirambah/diganggu). Walaupun demikian, pada bagian lain relatif datar (pada gunung dan puncak bukit) kondisi hutannya sudah terganggu. Hal ini disebabkan adanya kegiatan masyarakat yang telah lama bermukim di sekitar kawasan yang masih mempraktekkan perladangan berpindah yaitu masyarakat Dusun Kaluku Tinggu dan dari desa Balumpewa yang masih membuka ladang pada daerah perbukitan di sekitarkawasan Taman Wisata ini.
Kondisi pada bagian timur sungai Wera sebagian besar ditumbuhi vegetasi rumput ( ± 80 % ) dan lainnya adalah semak belukar. Pada bagian barat kawasan lebih banyak ditemui hutan sekunder ( 90 % ) dan pada bagian kiri kanan sungai Wera kondisi hutannya masih baik.
Jenis pohon yang mendominasi kawasan Taman Wisata Wera masing-masing adalah : Avicenia marina, Drypetes sp., Semecarpus sp., Pterospermum ferrugineum, Litsea sp. dan Dracontomelon mangiferrumn. Selain itu pada bagian Utara kawasan yang sudah terbuka, telah ditanami jenis pohon pinus (Pinus merkussi) dalam upaya reboisasi lahan kritis di daerah perbukitan yang mulai gundul.

Potensi Fauna
weraJenis satwa yang dapat dijumpai di kawasan Taman Wisata Wera relatif sedikit, hanya beberapa jenis mamalia, aves dan serangga yaitu antara lain : Monyet hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Kus-kus (Phalanger ursinus), Tarsius (Tarsius spectrum), Burung kasuari, Gagak (Aceros cassidix), Ayam hutan (Gallus-gallus) dan beberapa jenis kupu-kupu.
Keberadaan satwa yang relatif kurang ini disebabkan oleh kondisi habitat yang sudah terganggu dan gangguan masyarakat sekitar yang masih berburu dan melintasi kawasan ini.

4. WISATA
Potensi Obyek Wisata
Obyek wisata di Taman Wisata Wera yang menarik diantaranya ; menikmati panorama air terjun Wera yang dapat dilihat dari dua sisi yaitu wera atas (puncak) dan dari bawah (tempat jatuhnya air). Air terjun Wera dengan ketinggian terjunan ± 80 m dengan kemiringan terjun antara 70° – 80° manakala kita berada disekitar tempat jatuhnya air menyuguhkan pemandangan yang indah. Selain itu atraksi Hiking (mendaki gunung) dari arah Utara batas kawasan ke puncak bukit sebelah Barat. Pada umumnyha obyek wisata sesuai potensi yang dimiliki di kawasan Taman Wisata Wera ini masih baik bahkan dapat dikatakan masih alamiah.

5. PENGELOLAAN
Aksesibilitas
Kawasan Taman Wisata Wera terletak ± 20 km sebelah selatan Kota Palu, Kawasan ini relatif dekat dan mudah dijangkau karena telah ada jalan raya beraspal yang menghubungkan Kota Palu dengan desa-desa disekitarnya. Untuk mencapai kawasan ini pengunjung dapat naik kendaraan umum (minibus) dari Terminal Petobo Palu, atau kendaraan pribadi dengan rute:  Palu – Rarampadende – Balumpewa) perjalanan ke lokasi ini hanya membutuhkan waktu ± 30 menit.

Danau Tondano

Nama Danau Tondano tentu masih diingat oleh siapa pun yang pernah belajar di bangku sekolah dasar . Sebagian masih ingat dimana Danau Tondano berada, sebagian lagi mungkin sudah lupa, namun setidaknya masih tahu bahwa lokasi Danau Tondano berada di Sulawesi, meski tidak yakin benar untuk mengatakan bahwa Danau Tondano berada di Sulawesi Utara, tepatnya di Kabupaten Minahasa.

Danau Tondano
Danau Tondano dengan airnya yang berwarna kebiruan terlihat dikejauhan, dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan, hamparan pepohonan dan persawahan yang luas menghijau. Danau Tondano berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Danau Tondano
Salah satu sudut Danau Tondano dengan petak-petak penangkapan ikan yang sangat padat, diambil ketika dalam perjalanan menuju Bukit Kasih dengan langit yang tersaput mendung. Danau Tondano terkenal merupakan danau penghasil ikan nike goreng yang sangat gurih, serta ikan mujair, pior/kabos, dan payangka wiko (udang kecil). Pengunjung dapat mengelilingi Danau Tondano dengan menggunakan mobil, dan bisa berhenti di beberapa tempat untuk menikmati keindahannya.
Danau Tondano
Sebuah rumah panggung mungil cantik di atas danau Tondano, yang pemiliknya ternyata adalah teman Lita, sehingga kami pun bisa masuk ke dalam rumah itu untuk selama beberapa saat menikmati pemandangan Danau Tondano dari dalam ruangan yang ditata apik.
Danau Tondano
Deretan pancangan bambu yang menancap di tepian Danau Tondano, di sebelah kanan rumah mungil, sebagai tempat penangkapan ikan. Danau Tondano adalah danu yang terbesar di Sulawesi Utara dengan luas keseluruhan 4.278 ha, sehingga cadangan ikannya pun cukup berlimpah meskipun diambil setiap hari tanpa henti.
Danau Tondano
Pemandangan di sebelah kiri rumah mungil di tepi Danau Tondano itu, dengan jembatan yang menghubungkannya dari tepi jalan. Eceng gondok terlihat tumbuh berkelompok di tepian Danau Tondano. Meskipun tidak terlihat tumbuhan Eceng gondok di tengah Danau Tondano, namun di bawah permukaan airnya terdapat banyak akar-akar tumbuhan air.
Danau Tondano
Bagian atas dalam foto adalah ornamen pada gapura yang berada di mulut jembatan yang menuju ke rumah panggung. Sebuah sampan kecil berwarna oranye tampak tertambat di bawah rumah di tepi Danau Tondano.
Danau Tondano
Danau Tondano dilihat dari tepi rumah panggung. Mungkin karena luasnya, angin di tepian Danau Tondano bisa cukup kencang, dan riak air Danau Tondano yang meskipun rendah namun cukup untuk membuat perahu bergoyang. Dari beberapa foto, karena saya tidak melihat ada satu pun perahu melintas saat di sana, perahu motor di Danau Tondano banyak yang bercadik untuk membantu menjaga keseimbangan perahu.
Danau Tondano
Danau Tondano dari dalam rumah panggung, yang memperlihatkan atmosfer di dalam rumah yang sangat nyaman untuk bisa menikmati keindahan danau sambil bercengkerama, atau pun sambil menikmati makanan dan minuman khas Tondano.
Danau Tondano
Sebuah rumah panggung besar indah yang terletak di ketinggian, di pinggir jalan, di seberang rumah panggung di atas Danau Tondano itu, dengan pemandangan sangat luas ke arah Danau Tondano. Mungkin akan sangat menyenangkan jika bisa melihat Danau Tondano dari rumah ini.
Setidaknya ada dua tempat wisata di sekitar Danau Tondano yang biasa dikunjungi, yaitu Sumaru Endo di Remboken (GPS: 1.233920, 124.870400), dan Resort Wisata Bukit Pinus (arah ke Toliang Oki). Selain itu tentunya banyak titik-titik indah lain di sekeliling danau yang bisa dijelajahi sendiri dengan mobil. Sayang sekali saya tidak sempat pergi ke tempat wisata yang disebut terakhir itu. Mudah-mudahan pada kunjungan berikutnya bisa pergi ke sana, sekalian naik perahu mengelilingi Danau Tondano dan melihat pulau Likri, sebuah pulau kecil di Danau Tondano yang terletak di depan Desa Tandengan, Kecamatan Eris.

Danau Tondano

Berada di Kabupaten Minahasa, sekitar 36 km dari Kota Manado
Sulawesi Utara.

Kamis, 05 April 2012

Lemo Tana Toraja


Desa Lemo memiliki keunikan tersendiri. Tongkonan dan kubur batu yang berada di tebing curam menjadi daya tarik desa ini.
Kubur tebing batu
Tebing menjadi kubur
Kubur tebing batu
Lubang kubur batu dan Tau tau
Tongkonan
Tongkonan adalah rumah khas masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan dan sebagai rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan.
Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara. Arah tongkonan yang menghadap ke utara serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.
Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Kata tana artinya negeri, sedangkan kata toraja berasal dua kata yaitu tau (orang) dan maraya (orang besar atau bangsawan). Kemudian penggabungan kata-kata tesebut bermakna tempat bermukimnya suku Toraja atau berikutnya dikenal sebagai Tana Toraja.
Tongkonan berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja.
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual adat yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.
Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati.
Rumah tradisional Tongkonan di Lemo
Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari.
 Atap tongkonan berselimut lumut dan tanaman hijau lainnya
Ada beberapa jenis rumah adat togkonan, antara lain  tongkonan layuk (pesio’aluk),  yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan pekaindoran (pekamberan atau kaparengngesan), yaitu berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat. Ada juga batu a’riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan membina persatuan keluarga serta membina warisan.
Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman.
Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.
Lumbung padi, tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Ukiran khas Toraja bermakna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Ukiran tersebut digunakan sebagai dekorasi eksterior maupun interior rumah mereka.
Motif ukiran di dinding kayu tongkonan
Saat melihat rumah adat ini, ada ciri lain yang menonjol yaitu kepala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.
Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut.
Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci.
Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. Sumber materi tulisan: http:www.indonesia.travel
Kepala kerbau dan ayam berteman sebagai simbol