Sabtu, 25 Februari 2012

Misteri Alam "Yang Tidak Dijelaskan" (1)

Keterangan tentang masa lampau kita yang bersejarah itu kita kumpulkan dari pengetahuan tidak langsung. Kita telah menggunakan hasil-hasil penggalian, naskah-naskah kuno, lukisan-lukisan dalam gua, legenda-legenda dan lain sebagainya untuk menyusun suatu hipotesa kerja. Dari semua bahan itu telah dibuat mosaik yang mengesankan dan menarik, Tetapi mosaik itu merupakan produk dari pola pemikiran yang telah dipertimbangkan terlebih dahulu. Bagian-bagiannya selalu dapat kita pasang ke dalam pola itu sekalipun sering sekali harus menggunakan perekat yang terlalu jelas terlihat.

Suatu peristiwa pasti telah terjadi dengan sesuatu cara tertentu. Dan hanya dengan cara tertentu itu sajalah, tidak dengan cara lain. Lihatlah kalau memang itu yang dikehendaki oleh para sarjana memang dengan cara itulah terjadinya peris tiwa tersebut. Kita memang berhak untuk meragukan setiap pola pemikiran yang diterima atau suatu hipotesa kerja, karena jika sesuatu gagasan tidak dipertanyakan, berarti penelitian telah selesai.

Karena itu kebenaran dari masa lampau kita yang bersejarah itu, hanyalah relatif sifatnya. Bila dari masa lampau muncul aspek baru maka betapa pun populernya, hipotesa kerja itu harus diganti dengan yang baru.

Kiranya sekarang telah tiba saatnya untuk memperkenalkan suatu hipotesa kerja baru yang akan kita tempatkan di pusat penelitian tentang masa lampau kita. Pengetahuan baru tentang tatasurya dan alam semesta, tentang makro kosmos dan mikro kosmos, kemajuan-kemajuan hebat dalam teknologi dan pengobatan, dalam biologi dan geologi, awal wisata ruang angkasa dan hal-hal lain; kesemuanya ini sama sekali mengubah gambaran dunia kita hanya dalam waktu kurang dari lima puluh tahun.

Sekarang kita mengetahui bahwa ada kemungkinan untuk membuat pakaian ruang angkasa yang dapat menahan perbedaan walau besar se kali antara panas dan dingin. Sekarang kita mengetahui, bahwa wisata ruang angkasa bukan lagi merupakan gagasan utopis. Kita telah mengenal keajaiban televisi berwarna seperti pengetahuan kita tentang bagaimana mengukur kecepatan cahaya dan menghitung konsekwensi dari teori relativitas.

Gambaran dunia kita yang sudah membeku itu sekarang mencair kembali. Hipotesa-hipotesa kerja baru memerlukan norma, memerlukan patokan. Misalnya, di kemudian hari arkeologi kita tidak lagi hanya persoalan penggalinya. Pengumpulan dan penggolongan penemuan-penemuan arkeologis semata, tidak akan memadai.

Kalau ingin mendapatkan gambaran yang dapat dipercaya tentang masa silam kita dari arkeologi itu, cabang ilmu pengetahuan lain harus diikut sertakan dalam penelitian. Mari kita masuki alam mustahil itu dengan pikiran terbuka dan penuh dengan rasa ingin tahu. Mari kita coba untuk mengambil dan menguasai harta peninggalan yang diwariskan oleh para dewa itu.
.

Laksamana Piri Reis
.
Pada awal abad ke delapan belas, di istana Topkapi Turki, ditemukan peta-peta kuno. Peta itu adalah milik seorang perwira tinggi Angkatan Laut Turki Laksamana Piri Reis. Dua buah atlas yang disimpan di perpustakaan negara di Berlin yang memuat gambar yang tepat dari laut Tengah dan daerah sekitar laut Mati, juga berasal dari Laksamana Piri Reis ini.
.

Piri Reis map of Europe, the Mediterranean Sea (Laut Tengah) and North Africa
from his Kitab-ı Bahriye (Book of Navigation), 1521-1525
.
Semua peta ini telah diserahkan kepada Arlington H. Mallerey seorang Kartograf Amerika untuk diteliti. Mallerey memperkuat fakta yang luar biasa bahwa semua data geografi terdapat pada peta-peta itu, tetapi tidak digambar pada tempat yang semestinya. Ia minta bantuan dari Walters seorang kartograf dari Biro Hidrografi Angkatan Laut Amerika Serikat. Mallerey dan Walters bersama-sama menyusun suatu skala dan mentransformasikan peta itu menjadi bola dunia. Mereka membuat penemuan yang menggemparkan.


Surviving fragment of the first World Map of Piri Reis (1513)
.
Petanya memang cermat, bukan hanya mengenai Laut Tengah dan Laut Mati saja melainkan pantai-pantai Amerika Utara dan Selatan bahkan garis-garis tinggi Permukaan Samudra Antartika pun dilukiskan dengan persis sekali pada peta Piri Reis itu. Peta itu bukan hanya memproduksikan garis besarnya benua-benua melainkan juga topografi dari daerah-daerah pedalaman. Pegunungan, puncak gunung, pulau, sungai dan dataran tinggi; semuanya digambarkan dengan ketepatan yang luar biasa.
.

Piri Reis map interpretation
.
Dalam tahun 1957 Tahun Geografis, peta-peta itu diserahkan kepada Jesnit Lineham, yang menjabat direktur dari Weston Observatory merangkap juru potret pada Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah memeriksanya dengan cermat, Lineham pun hanya dapat memperkuat ketepatannya yang fantastis itu bahkan sampai mengenai daerah daerah yang di masa sekarang jarang sekali dipelajari.
.

Surviving fragment of the second World Map of Piri Reis (1528)
showing Greenland and North America 
from Labrador and Newfoundland in the north to Florida, 
Cuba and parts of Central America in the south.
.
Yang paling menonjol ialah bahwa pegunungan di Antartika yang baru ditemukan pada tahun 1952, dalam peta Reis telah terdapat. Pegunungan itu telah tertutup oleh es beratus-ratus tahun lamanya. Peta kita sekarang dibuat berdasarkan hasil pemetaan dengan menggunakan alat-alat gema suara.

Penyelidikan terakhir yang dilakukan oleh Profesor Charles. H. Hapgood dan akhli matematika Richard W. Strachan telah memberikan informasi yang lebih mengherankan lagi. Setelah diadakan perbandingan dengan hasil pemotretan bulatan dunia kita yang di lakukan secara modern dari satelit, perbandingan itu menunjukkan bahwa peta aslinya dari Piri Reis itu pasti telah dibuat berdasarkan hasil pemotretan dari udara dengan ketinggian yang jauh sekali, Nah! Bagaimana menjelaskan hal demikian itu?

Sebuah kapal ruang angkasa terbang diam di atas Kairo dan membidikkan kameranya lurus ke bawah. Setelah filmnya dicuci maka akan terdapat gambaran ini; segala sesuatu yang ada dalam radius kira-kira 5.000 mil dari Kairo akan direproduksikan secara tepat, karena semuanya ada di bawah lensa. Tetapi negara-negara dan benua-benua di luar radius itu akan berubah reproduksinya dari keadaan sebenarnya.

Semakin jauh pandangan kita dari titik pusat gambar, semakin banyak penyimpangan atau perubahan gambarnya. Mengapa ini semua? karena bumi ini berbentuk bulatan, benua-benua yang jauh dari titik pusat “tenggelam ke bawah”. Amerika Selatan misalnya, tampaknya berubah dengan janggal sekali pada ukuran memanjangnya, persis seperti perubahan pada peta Piri Reis! Dan juga persis seperti hasil-hasil pemotretan yang dilakukan satelit buatan dari Amerika.

Ada satu atau dua pertanyaan yang dapat dijawab dengan cepat. Tak dapat disangsikan, bahwa nenek moyang kita tak pernah membuat peta-peta itu. Namun demikian tak dapat disangsikan pula, bahwa peta-peta itu telah dibuat dengan menggunakan bantuan teknik modern yakni dari udara.

Harus bagaimana kita menerangkan itu? Haruskah kita merasa puas dengan legenda yang di eritakan oleh seorang dewa kepada seorang pendeta tinggi? Atau tak usah kita perdulikan semua itu dan tak usah mengindahkan keajaiban karena peta-peta itu cocok dengan gambaran dunia mental kita? Atau kita harus berani mengusik sarang tawon dan menyatakan bahwa kartografi dari bola dunia kita itu dibuat dari pesawat udara yang terbang tinggi atau dari suatu kapal ruang angkasa?

Diakui bahwa peta milik Laksamana Turki itu tidak originil. Peta itu entah merupakan salinan keberapa kalinya. Namun demikian sekalipun misalnya peta itu telah ada sejak abad ke delapan belas, jadi ketika ditemukan baru saja selesai dibuat, kenyataan-kenyataan ini semua sama saja, tidak dapat dijelaskan. Siapapun yang telah membuatnya, orang itu pasti telah pernah mampu mengudara dan mampu memotret dari udara.
.
.
Tidak jauh dari laut, pada punggung gunung Peruvia di Andes, terletak suatu kota kuno Nazca. Di lembah Palpa terdapat sebidang tanah datar yang panjangnya 37 mil, lebar 1 mil bertaburkan batu-batu kecil yang menyerupai besi berkarat. Penduduk setempat menyebut daerah ini “pampa” (=daerah tak berpohon-pohonan), walau tetumbuhan apapun tak mungkin hidup di sana. Jika anda terbang di atas wilayah ini yakni dataran Nazca anda akan dapat melihat garis besar-besar, yang dirancang secara geometris; beberapa diantaranya sejajar sedangkan yang lainnya saling berpotongan atau dikelilingi oleh bidang-bidang trapesoidal.
.

The Palpa Lines on ridge tops
.
Para arkeologis menyebut garis-garis ini “Jalan Inca” Gagasan tak masuk akal ! Apa manfaatnya bagi orang Inca jalan yang satu sama lainnya sejajar ini? Apa lagi yang saling berpotongan? Semuanya dirancang di atas tanah datar lalu tiba-tiba buntu?
.

Condor Figure on Nazca
.
Tentu saja tembikar dan barang-barang keramik lainnya ditemukan juga di sini. Tetapi menghubung-hubungkan garis yang disusun secara geometris itu dengan kebudayaan Nazca, hanya karena alasan itu saja, sudah tentu merupakan penyederhanaan sesuatu secara berlebih-lebihan.
.

Peta Nazca
.
Sampai tahun 1952 tidak ada penggalian yang serius di daerah ini. Tidak ada urutan waktu yang nyata tentang penemuan-penemuan itu. Baru sekarang garis-garis dan bentuk-bentuk geometris itu telah diukur. Hasilnya menetapkan bahwa garis-garis itu telah dirancang sesuai dengan rencana astronomis. Profesor Alden Mason seorang akhli dalam kepurbakalaan Peruvia, menduga bahwa dalam jajaran garis itu terdapat tanda-tanda semacam agama dan juga semacam kalender.
.
Dilihat dari udara, dataran Nazca yang 37 mil panjangnya itu, terkesan jelas sekali bagaikan sebuah lapangan terbang. Bagian yang manakah tentang gagasan ini yang tak masuk akal atau yang dibuat-buat? Penelitian tidak mungkin terwujud sebelum obyek yang harus diteliti ditemukan! Sekali ditemukan, maka barang itu digosok, dipotong dan diratakan pinggir-pinggirnya sampai menjadi batu yang cukup ajaib, cocok dan sesuai dengan mosaik yang telah ada. Arkeologi klasik tidak membenarkan bahwa rakyat pra-Inca pernah mempunyai teknik pengukuran tanah yang sempurna. Dan teori yang mengatakan bahwa di zaman purbakala pernah ada pesawat udara adalah omong kosong belaka. Lalu dalam hal itu, apa gunanya garis-garis di Nazca itu?
.
.
Garis-garis itu mungkin dirancang secara besar-besaran menurut sesuatu model, dan menggunakan suatu sistem koordinator, atau mungkin juga dirancang menurut instruksi yang datang dari sebuah pesawat udara. Untuk mengatakan dengan pasti, bahwa apakah dataran rendah di Nazca itu dulunya adalah sebuah lapangan terbang, juga belum memungkinkan. Jika besi pernah dipergunakan, tentu sudah tak akan ditemukan lagi di sana, karena besi pra-sejarah tak dikenal orang. Logam akan berkarat dalam beberapa tahun saja; sedangkan batu tak pernah berkarat.
.
Astronaut Nasca Line
 .
Apakah salah tentang gagasan bahwa garis-garis itu dirancang untuk seolah-olah mengatakan kepada para dewa: “Mendaratlah di sini. Segala sesuatunya telah kami buat sesuai dengan perintahmu?”. Para pembuat garis berbentuk geometris mungkin tak pernah memahami apa yang mereka lakukan. Tetapi barangkali mereka tahu benar apa yang para dewa butuhkan untuk mendarat.

Gambar-gambar besar yang tak dapat disangsikan bahwa semuanya telah dibuat sebagai isyarat bagi makhluk yang melayang-layang di udara, banyak ditemukan di lereng-lereng pegunungan di Peru. Adakah guna lain dari kesemuanya itu?

Satu di antara gambar-gambar yang paling aneh ialah yang diukir pada dinding tinggi dari batu karang terjal berwarna merah di Teluk Pisco. Jika anda datang ke tempat itu dengan kapal laut, dari jarak 12 mil lebih anda akan dapat melihat suatu bentuk yang tingginya hampir 820 kaki, dan jika secara main-main anda berkata: “Itu seperti .......” maka reaksi anda ialah bahwa karya pemahat patung ini seperti suatu tangkai kail raksasa atau seperti sebatang tempat lilin raksasa. Seutas tambang yang panjang ditemukan pula ada pilar tengah dari batu ini. Apakah ini dulu digunakan sebagai pendulum?
.

Candelabra Geoglyph, Pisco Bay
.
Secara jujur harus kita akui bahwa bagaikan meraba-raba di dalam kegelapan apa bila kita mencoba menjelaskannnya. Hal ini tak dapat pula dimasukkan ke dalam dogma-dogma yang telah ada. Ini bukan berarti bahwa tidak mungkin ada suatu muslihat yang diperoleh dari cara berpikir arkeologis yang dapat diterima, untuk digunakan oleh para sarjana menyusun phenomena ini ke dalam mosaik besar. Tetapi apa yang mungkin telah mendorong rakyat pra Inca untuk membuat garis-garis fantastis atau landasan-landasan pendaratan itu di Nazca? Otak miring apa yang mendorong mereka untuk menciptakan tanda dari batu setinggi 820 kaki itu pada dinding batu karang merah di Lima Selatan?

Tugas untuk membuat kesemuanya itu akan memakan waktu berpuluh-puluh tahun apabila dilaksanakan tanpa mesin dan peralatan modern. Seluruh kegiatan mereka tidak akan berguna jika hasil dari segala upayanya bukan dimaksudkan sebagai isyarat kepada makhluk yang datang dari langit. Pertanyaan yang masih harus dijawab ialah; Mengapa mereka berbuat demikian, kalau bukan karena mereka mengetahui bahwa makhluk terbang itu benar-benar ada?.

Pengenalan hasil penemuan tidak lagi hanya masalah arkeologi. Suatu dewan yang terdiri dari sarjana-sarjana dari berbagai bidang penelitian pasti dapat membawa kita pada pendekatan pemecahan teka-teki itu. Pertukaran pendapat menghasilkan wawasan yang terang. Oleh karena para sarjana tidak menanggapi persoalan demikian secara serius, maka terdapat bahaya bahwa penelitian tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Adakah wisatawan ruang angkasa dalam kabut kelabu? Suatu pertanyaan yang tidak dapat diterima bagi para akademisi. Setiap orang yang bertanya demikian perlu minta pertolongan doktor penyakit jiwa. Tetapi pertanyaan tetap pertanyaan dan tetap mengiang di telinga sampai terjawab. Dan pertanyaan yang tak dapat diterima seperti itu masih banyak.

Sebagai contoh, apa kiranya yang akan dikatakan orang, kalau ada kalender yang menunjukkan hari atau tanggal di mana siang dan malam sama panjang, menunjukkan musim-musim astronomis, posisi bulan tiap jam dan juga peredaran bulan, bahkan sampai memperhitungkan rotasi bumi?

Pertanyaan itu tidak hanya hipotetis. Kalender semacam ini ada. Kalender ini telah ditemukan dalam lumpur kering di Tiahuanaco. Suatu penemuan yang membingungkan. Penemuan yang mengandung fakta yang tak dapat dibantah, dan membuktikan bahwa makhluk hidup yang membuat, yang menemukan (menciptakan) dan menggunakan kalender itu mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi dari pada kita.
.
.
Penemuan lain yang fantastis sekali ialah “Berhala Besar”, terbuat dari satu balok tunggal batu pasir yang panjangnya lebih dari 24 kaki, seberat 20 ton. Berhala itu ditemukan di dalam Kuil Tua. Di sinipun dijumpai lagi suatu kontradiksi antara mutu tinggi serta presisi beratus-ratus simbol yang terdapat pada seluruh tubuh berhala itu dengan teknik primitif pembuatan bangunan di mana berhala itu ditempatkan. Memang nama Kuil Tua itu cocok karena teknik pembuatannya yang primitif itu.
.

The Great Idol Tiahuanaco
.
H.S. Bellamy dan P. Allan dalam bukunya yang berjudul “The Great Idol Tiahuanaco” telah membuat suatu interpretasi yang cukup beralasan tentang simbol-simbol itu. Mereka berkesimpulan bahwa simbol-simbol itu merupakan catatan kumpulan yang sangat banyak tentang pengetahuan astronomis, yang sebetulnya didasarkan ke pada bentuk bumi yang bulat ini.
.

Tiahuanaco Temple
.
Selanjutnya mereka simpulkan bahwa cacatan itu cocok sekali dengan Teori tentang satelit, karya Hoerbiger yang di terbitkan tahun 1927, lima tahun sebelum patung berhala itu ditemukan. Teori ini mendalilkan bahwa sebuah satelit pernah tertangkap oleh bumi. Karena satelit itu ditarik mendekat ke bumi, maka satelit itu memperlambat perputaran bumi pada sumbunya. Akhirnya satelit itu hancur dan diganti oleh bulan.
.
Simbol-simbol pada badan berhala itu mencatat dengan tepat phenomena yang dapat sejalan dengan teori ini pada waktu satelit itu sedang mengorbit mengitari bumi sebanyak 425 kali putaran dalam satu tahun yang berumur 288 hari. Mereka terpaksa berkesimpulan bahwa berhala itu mencatat keadaan benda-benda langit pada 27.000 tahun yang lalu. Mereka menulis: “Pada umumnya prasasti pada patung berhala itu memberikan kesan bahwa prasasti itu diciptakan juga sebagai catatan untuk generasi-generasi mendatang. Memang di sini terdapat suatu benda purbakala yang perlu diterangkan lebih jelas dari pada hanya disebut “Seorang Dewa Kuno”.
.

Symbols
.
Jika interpretasi tentang simbol-simbol ini dapat diperkuat, bila pertanyaan: “Apakah pengetahun tentang astronomi ini benar-benar dikumpulkan oleh rakyat yang masih harus lebih banyak belajar tentang bangunan, ataukah datang dari sumber yang ada di luar bumi ini?”. Bilamana salah satu saja dari ke dua hal itu tergali adanya kumpulan pengetahuan yang cerdik dan jlimet pada 27.000 tahun yang lalu itu (yang ditunjukkan baik oleh patung berhala maupun oleh kalender), adalah suatu gagasan yang mengagetkan.
.

Tiahuanaco kalasayaya temple
.
Kota Tiahuanaco itu penuh dengan rahasia. Kota itu terletak pada ketinggian lebih dari 13.000 kaki dan bermilmil jauhnya dari kota-kota lain. Jika anda berangkat dari Cuzco, Peru, anda akan mencapai kota dan tempat-tempat penggalian itu setelah mengadakan perjalanan beberapa hari dengan kereta api dan kapal laut. Dataran tingginya mirip dengan suatu pemandangan di planet yang belum dikenal. Kerja tangan adalah siksaan bagi siapa saja yang bukan penduduk asli di sana. Tekanan udaranya kira-kira setengah dari tekanan udara di atas permukaan laut dan sehubungan dengan itu kandungan oksigen dalam udaranya sudah tentu sedikit sekali. Namun demikian di atas dataran tinggi ini berdiri suatu kota yang besar sekali.
.

Tiahuanaco Sun Gate
.
Tidak ada tradisi otentik mengenai Tiahuanaco ini. Dalam hal ini barang kali kita harus merasa gembira bahwa jawaban-jawaban yang dapat diterima tidak dapat dicapai dengan bersandar kepada cara belajar kuno yang turun-temurun itu. Di atas reruntuhan yang sangat tua itu (kita tidak tahu berapa ribu tahun tuanya), mengapunglah kabut masa lampau, kedunguan dari misteri atau kegaiban. Balok-balok batu pasir seberat 100 ton yang ditumpangi dengan balok-balok lain seberat 60 ton dijadikan dinding. Bidang-bidang lain yang bertepi dan bersudut tepat pada persambungan dengan batu-batu persegi lainnya, yang disatukan oleh jepitan yang terbuat dari tembaga. Di samping itu, semua susunan batu itu telah dikerjakan secara rapi sekali.

Lubang-lubang sedalam 8 kaki yang sampai sekarang belum dijelaskan untuk apa terdapat dalam balok batu yang beratnya 10 ton. Batu ubin yang sudah aus, yang panjangnya 16 ½ kaki dan merupakan satu potong batu tanpa sambungan juga tidak membantu memecahkan teka-teki yang terdapat di Tiahuanaco itu.

Saluran air yang terbuat dari batu sepanjang 6 kaki dan lebar 1 ½ kaki, terdapat bertebaran di atas lantai bagaikan mainan. Tebaran benda-benda itu pasti disebabkan oleh bencana alam yang dahsyat. Penemuan ini telah mengejutkan kita karena hasil karyanya yang begitu cermat. Apakah nenek moyang kita di Tiahuanaco tidak dapat berbuat sesuatu yang lebih baik dari pada menghabiskan waktu bertahun tahun membuat saluran seperti itu tanpa peralatan sedemikian cermatnya, sehingga kalau dibanding kan maka saluran air kita yang modern dan terbuat dari beton itu seolah-olah hanyalah hasil pekerjaan yang ceroboh belaka?

Di halaman kuil yang sekarang telah dipugar, terdapat sekumpulan patung kepala campur aduk, yang kalau diperhatikan dari dekat adalah merupakan kumpulan dari berbagai ras; karena sebagian mukanya ada yang berbibir tipis, ada yang berbibir tebal; sebagian ada yang berhidung panjang, ada yang berhidung lengkung; sebagian ada yang berkuping tipis bagus, ada yang berkuping tebal; sebagian berwajah lembut, ada yang wajahnya bersudut-sudut. Dan sebagian dari kepala-kepala itu berhelm aneh. Apakah bentuk-bentuk wajah yang tak dikenal ini dimaksudkan untuk mencoba menyampaikan pesan kepada kita bahwa kita tidak dapat dan tidak akan mengerti karena dicegah oleh sikap kita yang keras kepala dan berprasangka?.
.

Faces at Tiahuanaco
.
Salah satu keajaiban arkeologi dari Amerika Selatan ialah Gerbang Monolitas Matahari di Tiahuanaco yakni suatu patung raksasa yang tingginya hampir 10 kaki, lebarnya 16 ½ kaki, dipahat dari satu balok batu tunggal. Beratnya ditaksir lebih dari 10 ton. Empatpuluh delapan buah bujursangkar yang disusun dalam tiga deretan, mengapit patung yang menggambarkan dewa terbang. Apakah yang diceritakan legenda tentang kota Tiahuanaco yang misterius itu?
.
.
Alkisah, dikatakan orang bahwa sebuah kapal ruang angkasa terbuat dari emas pernah datang dari bintang; di dalamnya terdapat seorang wanita yang bernama Oryana, yang akan melaksanakan tugas di bumi ini yakni menjadi Ibu Agung. Oryana hanya mempunyai empat jari yang di sela-selanya berselaput seperti jari-jari kaki bebek. Ibu Agung Oryana melahirkan 70 orang anak bumi, setelah itu ia kembali ke bintang tempat asalnya.

Memang di Tiahuanaco ditemukan pahatan-pahatan batu karang yang menggambarkan makhluk hidup yang berjari empat. Abadnya tak dapat di tentukan. Tiada seorang pun dan dari abad mana pun yang telah kita ketahui pernah melihat Tiahuanaco dalam keadaan utuh. Rahasia apakah yang disembunyikan kota ini? Pesan apakah yang dikirim dari dunia lain, yang menanti pemecahannya pada dataran tinggi di Bolivia itu?

Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengenai awal dan akhir kebudayaan ini. Hal ini sudah tentu tidak akan menghentikan beberapa arkeologis membuat ketentuan yang berani dan berkeyakinan pribadi menetapkan bahwa tempat reruntuhan itu telah berumur 3.000 tahun. Mereka menentukan zaman ini berdasarkan beberapa patung yang menggelikan terbuat dari tanah dan yang tak mungkin mempunyai sangkut paut dengan zaman monilit. Para sarjana mempermudah sesuatunya demi kepentingan mereka. Mereka persatukan sejumlah pecahan-pecahan tembikar, mencari dan meneliti kebudayaan dari satu atau dua zaman yang berdekatan, Kemudian label dipasang pada penemuan yang telah dipersatukan tadi, dan dengan demikian cocoklah segala sesuatunya pada pola pemikiran yang telah disetujui.

Cara ini nyata sekali lebih mudah dari pada mencoba gagasan tentang adanya suatu keterampilan tehnik yang diperlukan di suatu zaman,atau gagasan tentang adanya wisatawan ruang angkasa dari zaman yang telah lama silam. Percobaan gagasan demikian dianggap hanya akan mempersulit persoalan, tanpa guna.

bersambung ......

Sumber: Chariots of the Gods by Erich von Daniken

Tidak ada komentar:

Posting Komentar